Tribun

Bom Bunuh Diri di Kabul Afghanistan Tewaskan 35 Orang, Sebagian Besar Korban adalah Perempuan

Bom bunuh diri di Kabul, ibu kota Afghanistan menewaskan 35 orang, di mana sebagian besar korban adalah anak perempuan dan perempuan muda.

Penulis: Rica Agustina
Editor: Sri Juliati
zoom-in Bom Bunuh Diri di Kabul Afghanistan Tewaskan 35 Orang, Sebagian Besar Korban adalah Perempuan
AFP
Pejuang Taliban melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan pengunjuk rasa wanita Afghanistan di Kabul pada 13 Agustus 2022. - Bom bunuh diri di Kabul, ibu kota Afghanistan menewaskan 35 orang, di mana sebagian besar korban adalah anak perempuan dan perempuan muda. 

TRIBUNNEWS.COM - Bom bunuh diri meledak di Kabul, Ibu Kota Afghanistan pada Jumat (30/9/2022).

Ledakan bom itu terjadi tepatnya di pusat pendidikan Kaj di Dasht-e-Barchi, rumah bagi komunitas besar Hazara yang terletak di Kabul barat.

Akibat ledakan tersebut, sedikitnya 35 orang tewas dan 82 orang terluka, menurut misi PBB.

Namun, jumlah korban mungkin lebih tinggi dari angka yang sejauh ini dirilis pihak berwenang Kabul.

Adapun sebagian besar korban adalah anak perempuan dan perempuan muda.

"Sebagian besar korban adalah anak perempuan dan perempuan muda," tulis misi tersebut di Twitter pada Sabtu (1/10/2022).

Baca juga: Bom Bunuh Diri Tewaskan 19 Orang di Sebuah Pusat Pendidikan di Afghanistan

"Semua nama perlu didokumentasikan dan diingat dan keadilan harus ditegakkan."

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di pusat di mana orang-orang muda berkumpul untuk mengikuti ujian universitas tiruan.

Akan tetapi, afiliasi lokal ISIL (ISIS), saingan Taliban, telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan serupa di pusat-pusat pendidikan dalam beberapa tahun terakhir.

ISIS pernah mengklaim bertanggung jawab atas serangan bunuh diri di sebuah pusat pendidikan di lingkungan yang sama yang menewaskan 24 orang pada 2020.

Setidaknya 85 orang juga tewas dalam serangan lain yang tidak diklaim di dekat sebuah sekolah di Dasht-e-Barchi pada Mei 2021.

Taliban, yang meraih kekuasaan di tengah penarikan pasukan asing pada Agustus 2021, telah berjanji untuk membawa stabilitas ke negara itu setelah 20 tahun perang, tetapi serentetan kekerasan baru-baru ini telah merusak narasi itu.

Pada hari Jumat, kantor berita AFP melaporkan bahwa lebih dari 50 wanita menentang larangan Taliban dalam aksi unjuk rasa untuk menyerukan diakhirinya kekerasan terhadap orang-orang Hazara, yang bertahun-tahun telah menuduh dugaan penganiayaan oleh Taliban yang berkuasa sementara berulang kali menjadi sasaran serangan ISIL.

Kelompok itu meneriakkan "hentikan genosida Hazara, bukan kejahatan menjadi seorang Syiah", saat mereka berbaris melewati sebuah rumah sakit di Dasht-e-Barchi di mana beberapa korban serangan itu dirawat.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas