Tribun

Karyawan Amazon di Sejumlah Negara Gelar Aksi Protes dan Mogok Kerja Bertepatan dengan Black Friday

Di festival belanja terbesar Black Friday, para karyawan Amazon justru menggelar aksi mogok kerja dan protes kenaikan upah.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Miftah
zoom-in Karyawan Amazon di Sejumlah Negara Gelar Aksi Protes dan Mogok Kerja Bertepatan dengan Black Friday
ANDREA RENAULT / AFP
Foto ilustrasi pekerja Amazon. Para pekerja Amazon memprotes pada 1 April 2022, memilih penyatuan gudang Amazon Staten Island di New York. Di festival belanja terbesar Black Friday, para karyawan Amazon justru menggelar aksi mogok kerja dan protes kenaikan upah. 

TRIBUNNEWS.COM - Pekerja Amazon di UK dan 40 negara lainnya menggelar mogok kerja dan aksi protes bertepatan dengan perayaan Black Friday.

Black Friday adalah istilah hari belanja nasional yang jatuh di Hari Jumat terakhir pada bulan November, di mana para retailer memberi diskon besar-besaran.

Dilansir The Guardian, karyawan di banyak negara, dari Jepang, Australia, India, AS, dan seluruh Eropa, ikut serta dalam pemogokan dan protes.

Dengan kampanye "Make Amazon Pay", para pekerja menuntut kenaikan upah dan kondisi kerja yang lebih baik.

Di Inggris Raya, ratusan anggota serikat buruh GMB melakukan pemogokan atau protes di sejumlah gudang Amazon.

"Kami di sini hari ini untuk memberi tahu Amazon bahwa jika Anda ingin mempertahankan kerajaan Anda, bicaralah dengan GMB untuk meningkatkan gaji dan kondisi pekerja," kata Amanda Gearing, penyelenggara senior di GMB.

Baca juga: Fakta-fakta Hari Belanja Black Friday di Amerika: Sejarah, Tanggal Jatuhnya, hingga Arti Istilah

"Pekerja Amazon terlalu banyak bekerja, dibayar rendah, dan mereka sudah muak."

Keuntungan di Amazon Services UK - gudang dan operasi logistik - telah melonjak sebesar 60 persen menjadi £204 juta.

Pendapatannya juga tumbuh lebih dari seperempat hingga lebih dari £ 6 miliar tahun lalu.

Amazon Services UK diperkirakan mempekerjakan lebih dari setengah tenaga kerja perusahaan Inggris yang berjumlah hampir 75.000 orang.

Para pekerja menuntut kenaikan upah dari £10,50 menjadi £15 per jam karena biaya krisis hidup mempengaruhi anggaran rumah tangga.

Namun, berpartisipasi dalam aksi protes di Inggris dapat berarti bahwa pengunjuk rasa dapat kehilangan bagian kedua dari bonus £500 yang disetujui Amazon untuk diberikan kepada puluhan ribu pekerja garis depan.

Ilustrasi Amazon Inc.
Ilustrasi Amazon Inc. (Fortune)

Baca juga: Amazon Terancam Bangkrut, PHK Karyawan Berlanjut Hingga 2023

Bulan lalu, Amazon UK mengatakan bahwa pemberian bonus bagian kedua bergantung pada staf yang "absen tanpa izin" antara 22 November dan Malam Natal.

GMB berargumen bahwa menghubungkan pembayaran dengan kehadiran staf dapat dianggap sebagai tindakan ilegal.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas