Tribun

Virus Corona

Amerika Kritik Strategi Nol Covid-19 China, Sebut Beijing Perlu Tingkatkan Vaksinasi Kalangan Lansia

Selama tiga tahun, China masih memberlakukan kontrol sosial yang ketat untuk meredam wabah Covid-19.

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Amerika Kritik Strategi Nol Covid-19 China, Sebut Beijing Perlu Tingkatkan Vaksinasi Kalangan Lansia
Twitter Janis Mackey Frayer/@janisfrayer
Pada protes nol Covid di Beijing, orang-orang membawa kertas putih dan menyanyikan lagu kebangsaan China, yang merupakan seruan selama lockdown, Senin (28/11/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mengkritik strategi nol Covid-19 di China pada Senin (28/11/2022), dengan menyebut kebijakan tersebut tidak efektif.

Pernyataan tersebut diungkapkan juru bicara Dewan Keamanan Nasional Presiden Joe Biden, seraya menambahkan rakyat China memiliki hak untuk melakukan aksi protes secara damai.

“Kami sudah lama mengatakan setiap orang memiliki hak untuk melakukan protes secara damai, di sini di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Ini termasuk di RRT,” kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan, yang dikutip dari CNBC.

Aksi protes yang jarang terjadi terhadap penguncian wilayah atau lockdown Covid-19 telah meluas ke Beijing, Shanghai, Urumqi, dan kota-kota China lainnya selama akhir pekan kemarin.

Baca juga: Xi Jinping Dituntut Mundur, Pemerintah China Tak Bergeming dengan Kebijakan Nol Covid-19

Hampir tiga tahun setelah virus Corona pertama kali muncul di Wuhan, dan China masih memberlakukan kontrol sosial yang ketat untuk meredam wabah tersebut, sementara negara-negara lain di dunia, termasuk Amerika Serikat, sebagian besar telah kembali ke kehidupan normal.

“Kami telah mengatakan bahwa nol COVID bukanlah kebijakan yang kami kejar di sini di Amerika Serikat. Dan seperti yang telah kami katakan, kami pikir akan sangat sulit bagi Republik Rakyat Tiongkok untuk dapat menahan virus ini melalui strategi nol COVID mereka,” ujar juru bicara itu.

Tanggapan yang diberikan AS atas kebijakan Covid-19 di China difokuskan pada peningkatan vaksinasi dan membuat pengujian serta perawatan kesehatan lebih mudah diakses, kata juru bicara itu.

Kontrol Covid yang ketat di China membuat tingkat kematian akibat virus itu sangat rendah dibandingkan dengan AS, namun tindakan tersebut juga sangat mengganggu kehidupan ekonomi dan sosial.

Di China, tercatat lebih dari 30.000 orang telah meninggal akibat Covid sejak pandemi dimulai, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia. Sementara di AS, Covid-19 memakan korban lebih dari 1 juta orang.

Seorang pakar terkemuka mengenai penyakit menular di AS, Anthony Fauci, mengatakan pendekatan China terhadap Covid “tidak masuk akal bagi kesehatan masyarakat".

Tingkat vaksinasi di kalangan lansia, salah satu kelompok yang paling rentan terhadap Covid, sangat rendah di China dibandingkan negara lain.

Kampanye vaksinasi di China pertama-tama berfokus pada orang-orang dalam posisi kritis, selanjutnya mereka yang berusia 18 hingga 59 tahun, dan kemudian baru menyasar ke orang-orang berusia 60 tahun ke atas, kata Fauci.

“Jika Anda melihat prevalensi vaksinasi di kalangan orang tua, itu hampir kontraproduktif, orang yang benar-benar perlu Anda lindungi tidak terlindungi," ungkapnya.

Lockdown sementara mungkin masuk akal jika tujuannya adalah mengulur waktu untuk meningkatkan tingkat vaksinasi, namun China tampaknya tidak melakukan itu, tambahnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas