Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kaleidoskop 2022: Kilas Balik Munculnya Cacar Monyet atau Virus Monkeypox di Eropa & Kontroversinya

Monkeypox kali pertama diidentifikasi oleh para ilmuwan Denmark pada 1958, saat menyebar diantara monyet kera pemakan kepiting di penangkaran.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Kaleidoskop 2022: Kilas Balik Munculnya Cacar Monyet atau Virus Monkeypox di Eropa & Kontroversinya
freepik
Monkeypox atau cacar monyet 

Virus ini juga dapat menyebar ke manusia, namun manusia bukanlah reservoir alami virus.

Selain itu, masa inkubasi virus ini berlangsung selama 5 hingga 21 hari setelah infeksi.

Namun saat gejalanya muncul, terdapat tanda seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga lesi klasik yang menyebar ke seluruh kulit, berisi nanah dan kemudian pecah.

Berbeda dengan cacar, Monkeypox juga dapat membuat kelenjar getah bening membengkak.

Gejalanya pun dapat bertahan selama lebih dari empat minggu sebelum pemulihan, namun sering hilang setelah dua minggu.

- Bagaimana pola penyebarannya?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) mengatakan penularan Monkeypox terjadi saat seseorang bersentuhan dengan virus dari hewan, manusia, atau benda yang terkontaminasi virus.

Rekomendasi Untuk Anda

Virus tersebut kemudian masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang rusak, saluran pernafasan maupun selaput lendir yang ada pada mata, hidung atau mulut.

Monkeypox dapat menular dari hewan ke manusia melalui gigitan atau cakaran, serta dengan memegang daging hewan liar, kontak langsung dengan cairan tubuh, luka, atau bahan seperti pakaian dan tempat tidur yang terkontaminasi luka.

Kasus Monkeypox pada manusia kali pertama diidentifikasi di Republik Demokratik Kongo pada 1970.

Sejak saat jtu, ribuan kasus telah dilacak di beberapa negara Afrika lainnya, termasuk Kamerun, Republik Afrika Tengah, Pantai Gading, Gabon, Liberia, Nigeria, Republik Kongo dan Sierra Leone.

- Apakah virus tersebut mematikan?

Menurut WHO, varian Monkeypox yang berbeda memiliki virulensi yang berbeda pula.

Di Republik Demokratik Kongo, virus ini diperkirakan memiliki tingkat kematian mencapai 10 persen, sementara di Afrika Barat hanya menyebabkan kematian pada 1 persen dari mereka yang terinfeksi.

Berbeda dengan banyak penyakit lainnya, anak-anak mengalami gejala yang lebih buruk dan tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas