Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Fakta dan mitos di balik 10 permata paling legendaris di dunia

Tribun X Baca tanpa iklan

Gelang Cartier Panther Wallis Simpson

Hubungan cinta yang terkenal antara Wallis Simpson, sosialitas AS, dan Edward VIII, yang turun tahta Inggris pada tahun 1936 demi cinta, dalam banyak hal dapat ditelusuri melalui koleksi perhiasan Cartier.

Sepanjang hidup mereka, pasangan itu memesan perhiasan Cartier untuk satu sama lain, dan sebagian besarnya dijual oleh Sotheby dalam lelang tahun 2010.

Bintang pelelangan itu adalah gelang panther berhias onyx dan berlian tahun 1952 milik Simpson, penuh dengan zamrud, hadiah dari Edward mereka diasingkan di Paris.

"Benda ini memiliki hampir semua kualitas yang menjadikan perhiasan menjadi ikonik," kata Magali Teisseire, kepala perhiasan di Sotheby's Paris, kepada BBC Culture.

"Ini sangat penting dalam sejarah Cartier. Gelang ini dirancang oleh [perancang perhiasan wanita perintis] Jeanne Toussaint, dijuluki 'La Panthère' oleh Louis Cartier, yang menyusun desain panther aslinya.

Jadi, ada kualitas, desain rumit, dan tentu saja, keromantisan."

Rekomendasi Untuk Anda

Madonna, yang membuat film biografi Simpson pada saat itu, dikatakan telah mencoba gelang tersebut sebelum pelelangan. Tetapi pembelinya yang membayar £4,5 juta (Rp83 miliar), tetap dirahasiakan.

Berlian Koh-i-Noor

Koh-i-Noor adalah salah satu berlian potongan terbesar di dunia. Berlian 105,6 karat ini juga merupakan salah satu yang paling kontroversial di antara Permata Mahkota Inggris.

Awalnya, Koh-i-Noor diyakini telah ditambang di India Selatan abad pertengahan. Sumber tertulis paling tua tentangnya hanya berasal dari tahun 1628, ketika menghiasi tahta bertatahkan permata penguasa Mughal Shah Jahan.

Pada 1739, tahta dijarah oleh penguasa Persia Nader Shan selama invasi ke Delhi, dan berlian dibawa ke tempat yang sekarang menjadi Afghanistan.

Menurut Majalah Smithsonian, batu itu kemudian "berpindah-pindah tangan berbagai penguasa dalam beraneka episode berlumuran darah,".

Pada akhirnya, dia muncul di India sekali lagi, mendarat di pangkuan penguasa Sikh Ranjit Singh pada tahun 1813.

East India Company Inggris, saat itu sedang menjajah sebagian besar anak benua Asia, kepincut permata itu karena terpesona oleh status mitologisnya, dan bertekad untuk mengklaimnya.

Mereka melakukannya pada tahun 1849, memaksa pewaris takhta Punjabi yang berusia 10 tahun untuk menyerahkan berlian sekaligus kedaulatannya, dan mempersembahkan Koh-i-Noor kepada Ratu Victoria.

Berlian itu muncul di Pameran Besar tahun 1851, menjadi omongan karena kurang cemerlang, dan kemudian dipotong dan dipoles ulang. Desas-desus kutukan pun semakin santer.

Saat ini, Koh-i-Noor menghiasi mahkota mendiang Ibu Suri, tetapi pemerintah India, Pakistan, Iran, dan Afghanistan semuanya menuntut kembalinya simbol tunggal penaklukan kolonial ini.

Cincin kelingking Marie Antoinette

"Jika ada daftar orang-orang yang perhiasannya diinginkan, Marie Antoinette berada di urutan teratas," kata Arabella Hiscox dari Christie.

Dan buktinya: 10 keping perhiasan yang dulunya milik ratu Prancis itu, yang dibeli oleh keluarga Bourbon-Parma, terjual seharga jutaan dolar pada lelang Sotheby yang memecahkan rekor di 2018.

Liontin mutiara alami yang indah adalah karya terlaris dari koleksi itu, yang dibungkus dan ditempatkan di peti kayu oleh Marie Antoinette sendiri, dan dikirim ke Brussel sesaat sebelum penangkapannya.

Tapi, cincin kelingking monogram kecil dianggap paling istimewa oleh Magali Teisseire dari Sotheby.

"Ada huruf MA dalam berlian, dan di dalamnya ada seikat rambut Marie Antoinette. Cincin ini koleksi yang sangat intim dan cincin yang sangat sering dia pakai," katanya.

"Saya ingat bertanya kepada spesialis yang menilai potongan-potongan itu, berapa banyak sumber langka yang bisa dikumpulkan. Jawabannya adalah: banyak. Perkiraannya 8–10.000 Franc Swiss, dan kami menjualnya 50 kali lipat."

Berlian "Breakfast at Tiffany's"

Berlian ini dibeli oleh pendiri Tiffany & Co, Charles Lewis Tiffany pada tahun 1870-an, dan dipopulerkan oleh Audrey Hepburn dalam foto publisitas untuk film Breakfast at Tiffany's tahun 1961.

Meskipun secara visual spektakuler dan dicintai secara budaya, berlian kuning yang unik ini memiliki masa lalu yang bermasalah.

Permata 128,54 karat ini hanya dikenakan oleh empat perempuan hingga saat ini: sosialita Mary Whitehouse, Hepburn (yang memakainya dengan kalung Ribbon Rosette oleh pembuat perhiasan Tiffany Jean Schlumberger).

Kemudian Lady Gaga dan Beyoncé masing-masing mengenakan bentuk barunya: kalung tahun 2012, dengan berlian putih hingga 100 karat.

Tetapi aura eksklusivitas berlian yang mempesona ini juga menarik perhatian orang mengenai asal muasalnya yang kelam.

Berlian itu digali pada tahun 1877 di tambang Kimberley Afrika Selatan, yang terkenal sebagai tempat di mana para pekerja kulit hitam dipaksa menanggung kondisi kerja yang mengerikan dan upah yang menyedihkan di bawah pemerintahan kolonial Inggris.

Dalam kolom tahun 2021 untuk Washington Post, penulis Karen Attiah berpendapat bahwa meskipun istilah "berlian darah" biasanya mengacu pada "sumber daya yang digunakan oleh milisi berbahaya dan panglima perang untuk membiayai operasi mereka", label tersebut harus diperluas untuk memasukkan berlian seperti ini.

Tujuannya, sebagai pengakuan atas "ribuan nyawa Afrika yang hilang dan komunitas yang dihancurkan dalam upaya kolonial untuk mengontrol sumber daya benua itu".

Coronet berlian dan safir Ratu Victoria

Salah satu harta paling simbolis di antara koleksi perhiasan V&A yang termasyhur adalah apa yang Helen Molesworth gambarkan sebagai "mahkota safir dan berlian yang indah".

Tiara ini dirancang untuk Ratu Victoria oleh Pangeran Albert pada tahun 1840, tahun pernikahan mereka.

Tiara ini dibuat oleh Joseph Kitching dari Kitching dan pembuat perhiasan Abud di London, dan tetap menjadi salah satu harta paling berharga Victoria sepanjang hidupnya.

"Dia terkenal mengenakan tiara itu melingkar di sekitar sanggulnya saat muda, dan sekali lagi, berkabung, di tutup kepala jandanya: ini jelas caranya untuk menjaga agar Albert yang dicintainya tetap dekat," Molesworth menjelaskan.

Safir adalah permata yang sangat simbolis untuk Keluarga Kerajaan, kata Molesworth, sesuatu yang dimulai dengan desain Albert untuk Victoria, dan meluas ke cincin pertunangan Diana.

"Mereka melambangkan warna biru kerajaan, juga iman dan kepercayaan, jadi ideal untuk pernikahan."

Pada akhirnya, bagian yang sangat penting melakukan apa yang dilakukan oleh perhiasan terbaik: "mengandung sinyal publik dan makna pribadi."

Kalung berlian Napoleon

Kalung berlian Napoleon yang bersejarah diberikan pada tahun 1811 oleh kaisar Prancis kepada istri keduanya, Marie-Louise, setelah kelahiran putra mereka, Napoleon II, Kaisar Roma.

Desain perak dan emas yang menakjubkan digagas oleh Etienne Nitôt dan Sons of Paris dan, menurut Smithsonian, awalnya menampilkan 234 berlian: 28 berlian potongan tambang tua, sembilan pendeloque, dan 10 briolette, disempurnakan dengan beberapa permata yang lebih kecil.

"Semua batu ditambang di India atau Brasil, tempat berlian terbaik berasal saat ini," kata Hiscox tentang daya tarik kalung yang memikat. "Kualitasnya luar biasa jernih, seperti air."

Setelah kejatuhan Napoleon, istri dan banyak perhiasannya dikembalikan ke tempat asalnya di Wina. Setelah kematian istrinya, kalung itu diberikan kepada saudara iparnya, Sophie dari Austria.

Archduchess memutuskan untuk memendekkannya dengan membuang dua batu dan mengubahnya menjadi anting-anting, yang keberadaannya saat ini tidak diketahui.

Sementara itu, kalung itu tetap menjadi milik keluarga sampai tahun 1948, ketika pertama kali dijual ke seorang kolektor Prancis, dan akhirnya ke pengusaha AS Marjorie Merriweather Post, yang memberikannya untuk Smithsonian pada tahun 1962.

Di sana, kalung itu terus dipuja, kata Hiscox, sebagai "salah satu bagian paling spektakuler dari masanya".

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas