Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

‘Lulus’ Simulasi Hidup di Mars, Pria Jogja Ingin Kembangkan Minat Studi Antariksa

Usai 'lulus' menjalani simulasi kehidupan di Planet Mars, pemuda asal Yogyakarta ini bertekad mengembangkan kecintaan terhadap studi…

Pengalaman mengikuti simulasi kehidupan di Mars yang dilangsungkan di Amerika Serikat pada 2018, membuat Venzha Christ tergerak menumbuhkan minat belajar luar angkasa kepada anak muda. Banyak pelajar dan mahasiswa yang sebenarnya memiliki ketertarikan di dunia antariksa. Namun menurutnya, mereka seringnya tidak mendapatkan pemahaman yang utuh di sekolah.

"Subjek ini memang tidak populer dan dianggap tidak keren. Saya ingin mereka yang menyukai antariksa juga bisa dianggap keren," kata Venzha yang sering diundang menjadi pembicara topik-topik tentang luar angkasa ini.

Menurutnya, ilmu tersebut masih sulit dicerna banyak orang di Indonesia karena sering kali menampilkan rumus-rumus astrofisika yang sulit dipahami. Dengan menggabungkan seni dan aerospace, pemuda lulusan program studi Desain Interior Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini berharap akan lebih banyak orang tertarik.

Hobi tentang luar angkasa sejak kecil

Venzha sejak kecil memang sudah gemar membaca komik dan mengoleksi barang-barang bertema fiksi ilmiah. Ia pun menunjukkan koleksi komik-komik dan bukunya, bahkan ada yang sempat ditaksir hingga puluhan juta rupiah.

Setidaknya ada tiga film yang mempengaruhi dan menguatkan ketertarikannya pada dunia antariksa.

"A Space Oddisey tahun 1968, Close Encounters of The Third Kind tahun 1977, dan E.T. the Extra-Terrestrial tahun 1982," jelas Venzha kepada DW Indonesia.

Ia bercerita bahwa orang tua dan saudara-saudaranya pun sempat mencibir hobi tersebut. Bahkan, saat dia di bangku kuliah, cukup sulit baginya menemukan kawan yang punya tingkat ketertarikan yang sama.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat di bangku kuliah hingga pertama kali bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta pada awal 1990-an, Venzha kerap berkeliling wilayah Indonesia untuk berburu barang-barang bertema antariksa.

"Anggaran yang saya keluarkan untuk membeli barang-barang tersebut mulai dari lima ribu sampai 25 juta rupiah," kenang Venzha. Tidak jarang dia menemukan barang-barang buruannya di laman dagang elektronik seperti e-bay. Bahkan, dia tidak segan berkunjung ke negara seperti Amerika Serikat atau Jepang untuk berburu barang bertema luar angkasa yang pernah diedarkan di Indonesia.

Simulasi hidup di Mars, seperti apa rasanya?

Di rumahnya, Venzha menyalakan peralatan hasil rakitannya sendiri seperti Radio Astronomy Receiver, lampu alat tersebut menyala berwarna hijau. "Alat ini menerima gelombang frekuensi ultrasonic dari luar angkasa yang tidak bisa ditangkap oleh telinga manusia," kata Venzha.

Tahun 2018 lalu, Venzha merasa beruntung mendapat kesempatan untuk menjalani simulasi kehidupan di Planet Mars selama dua bulan di Amerika Serikat. Satu bulan pertama dia habiskan untuk menyelesaikan serangkaian test yang diberikan oleh Mars Society yang terdiri dari Musk Foundation, SpaceX, NASA, dan Nippon Hoso Kyokai.

Tes yang harus dijalani cukup berat. Setiap hari seluruh peserta program diwajibkan menulis jurnal laporan kegiatan harian, menyelesaikan soal-soal dan situasi yang menuntut kemampuan pemecahan masalah, dan harus menjawab sekitar 84 pertanyaan tes kejiwaan yang sama berulang-ulang dalam waktu satu bulan.

Setelah lulus ujian, simulasi pun dimulai. Venzha menjadi bagian dari Team Asia, Crew 191, menghuni kubah Marsh Desert Research Station dengan diameter enam meter, di Utah, Amerika Serikat, bersama tujuh orang asal Jepang.

Setiap orang punya kapasitas dan tugas masing-masing sesuai keahlian seperti fisika, matematika, biologi dan sebagainya yang dinilai bisa mendukung hidup saat tinggal di Mars.

"Tugas saya adalah membawa alat untuk mendeteksi pancaran radiasi matahari," ujar Venzha. Tugas utamanya adalah memvalidasi data pancaran radiasi matahari. Ia mengatakan tugas yang diemban semua peserta tidak semudah dibayangkan.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas