Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Serangan Balasan Gagal Total, 43.000 Tentara Gugur, Ini 3 Opsi yang Mungkin Bakal Dilakukan Ukraina

Pasukan Volodymyr Zelensky dalam beberapa hari terakhir lebih memilih menggunakan drone dan rudal untuk merusak titik-titik militer dan ekonomi Rusia

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Serangan Balasan Gagal Total, 43.000 Tentara Gugur, Ini 3 Opsi yang Mungkin Bakal Dilakukan Ukraina
YAN DOBRONOSOV/GLOBAL IMAGES UKRAINA VIA GETTY
Foto ini menunjukkan pemandangan dari atas lokasi kuburan tentara Ukraina yang tewas dalam aksi pertempuran melawan invasi besar-besaran Rusia ke negara itu, 6 Desember 2022 di Kharkiv, Ukraina. Korban dianggap melonjak bertepatan dengan serangan balasan Ukraina, tetapi Kyiv mengatakan pasukannya tetap membuat kemajuan yang signifikan. 

TRIBUNNEWS.COM -- Ukraina mengalami kerugian yang sangat besar dalam serangan balik ke Rusia, meski demikian misi tersebut tidak banyak menguntungkan.

Alih-alih merebut wilayah yang telah dicaplok Moskow, lebih dari 43.000 tentaranya tewas, sementara berbagai senjata mutakhir kiriman negara-negara NATO pun tidak banyak membantu, justru menjadi sasaran empuk tentara Vladimir Putin.

Kiev pun saat ini seperti mentok dan enggan mengerahkan pasukannya dalam upaya mengambil alih wilayah timur dan tenggara.

Baca juga: Serangan Rusia di Chernihiv Tewaskan 7 Orang dan 144 Terluka, Zelensky Bersumpah untuk Balas Dendam

Pasukan Volodymyr Zelensky dalam beberapa hari terakhir lebih memilih menggunakan drone dan rudal untuk merusak titik-titik militer dan ekonomi Rusia.

Wakil Pemimpin Redaksi surat kabar asal Jerman, Bild, Paul Ronzheimer dalam analisisnya menyebut bahwa serangan balik sejak Juni lalu memang bisa dibilang gagal.

Meski menghadapi serangan balik, justru tentara Rusia berhasil melawan dan merebut wilayah lebih ke dalam kawasan Ukraina.

Menurut artikel tersebut, Ukraina dapat terus mencoba menembus pertahanan Rusia meskipun sejauh ini tidak mencapai terobosan besar.

Rekomendasi Untuk Anda

Ronzheimer menulis bahwa sejauh ini pemerintahan Presiden Vladimir Zelensky tetap optimis dan bertekad untuk melanjutkan kampanye.

Namun, jika gagal memperoleh keuntungan yang signifikan pada akhir tahun, Kiev dilaporkan merencanakan serangan balasan lainnya pada musim semi 2024.

Ronzheimer menuduh bahwa para pejabat di Kiev semakin frustrasi atas kritik atas taktik serangan balasannya yang datang dari Barat.

Bild mengutip seorang pejabat senior Ukraina yang tidak disebutkan namanya yang bersikeras bahwa "semuanya direncanakan bersama" dengan para pendukung Kiev.

Baca juga: Drone Ukraina Serang Empat Wilayah Rusia, Lima Orang Dikabarkan Luka-luka

Setiap dorongan baru bergantung pada penerimaan lebih banyak senjata dan amunisi Barat, kata Bild. Selain itu, Rusia kemungkinan akan menggunakan jeda musim dingin untuk memperkuat pertahanannya.

Jalan lain yang terbuka untuk Kiev, menurut artikel itu, adalah melanjutkan serangan balasan sambil secara bersamaan terlibat dalam pembicaraan damai dengan Rusia.

Namun, putaran balik seperti itu di pihak Zelensky akan sulit ditawarkan kepada penduduk, prediksi Ronzheimer.

Penduduk setempat melihat kawah rudal yang jatuh di antara bangunan tempat tinggal dan taman kanak-kanak di kota Lviv, Ukraina barat, pada 15 Agustus 2023, di tengah invasi Rusia di Ukraina. Walikota Lviv Andriy Sadovyi mengatakan di aplikasi perpesanan Telegram bahwa,
Penduduk setempat melihat kawah rudal yang jatuh di antara bangunan tempat tinggal dan taman kanak-kanak di kota Lviv, Ukraina barat, pada 15 Agustus 2023, di tengah invasi Rusia di Ukraina. Walikota Lviv Andriy Sadovyi mengatakan di aplikasi perpesanan Telegram bahwa, "banyak rudal ditembak jatuh", tetapi "bangunan tempat tinggal terkena" dalam serangan itu, menambahkan, "lebih dari 100 apartemen rusak, lebih dari 500 jendela pecah, dan taman kanak-kanak dihancurkan" setelah sebuah rudal terbang ke halamannya. Genya SAVILOV / AFP (Genya SAVILOV / AFP)

Wakil pemimpin redaksi Bild menekankan bahwa Oktober lalu, kepala negara Ukraina menandatangani keputusan yang mengesampingkan negosiasi dengan musuhnya dari Rusia, Vladimir Putin, dan bahwa jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan 72 persen warga Ukraina menentang pembicaraan dengan Rusia.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas