Huawei Rilis Ponsel Baru, Ini Alasan Apple dan Amerika Serikat Khawatir
Ponsel terbaru Huawei, Mate 60 Pro, sedang menarik perhatian para pecinta teknologi di Tiongkok. AS dan Apple alami kekhawatiran.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Ponsel terbaru Huawei, Mate 60 Pro sedang menarik perhatian para pecinta teknologi di Tiongkok.
Namun di Amerika Serikat, perangkat baru milik Huawei ini justru memicu kekhawatiran.
Kekhawatiran tersebut bersamaan dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan AS terkait teknologi yang digunakan ponsel Huawei Mate 60 Pro.
Baca juga: Apple Inc. Merugi 200 Miliar Dolar AS Gara-gara Larangan Pakai iPhone Xi Jinping
Dilansir CBS News, ponsel tersebut dilengkapi prosesor canggih 7 nanometer yang dibuat oleh SMIC, pembuat prosesor terkemuka di Tiongkok.
Dengan chip tersebut, ponsel ini memiliki kekuatan dan kecepatan yang cukup untuk menyaingi iPhone milik Apple dan penjualannya meningkat pesat di Tiongkok.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengendalian ekspor AS, yang bertujuan membatasi kemampuan Huawei untuk memperoleh komponen-komponen mutakhir seperti prosesor canggih.
Hingga saat ini, pembatasan tersebut efektif melumpuhkan bisnis ponsel pintar Huawei.
"Sebelum sanksi AS, perusahaan ini sedang dalam perjalanan untuk menjadi kekuatan global," terang Capital Economics dalam sebuah laporan dikutip dari CBS News.
"Pada tahun 2018, mereka menjual lebih banyak ponsel di Eropa dibandingkan Apple."
Departemen Perdagangan kemudian mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki telepon baru tersebut.
"Kami sedang berupaya untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai karakter dan komposisi chip 7nm tersebut,” kata seorang pejabat Departemen Perdagangan AS.
"Mari kita perjelas: Kontrol ekspor hanyalah salah satu alat yang dimiliki pemerintah AS untuk mengatasi ancaman keamanan nasional yang ditimbulkan oleh RRT (Republik Rakyat Tiongkok)," tuturnya.
Mengenal Huawei
Huawei asal Tiongkok, salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia, didirikan pada tahun 1987 dan kini memiliki lebih dari 200 ribu karyawan dan beroperasi di 170 negara.
Perusahaan ini sebagian besar tidak dikenal oleh konsumen AS karena sulitnya membeli produk mereka di Negeri Paman Sam.