Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Israel dan Palestina Bersatu Lewat Musik di Berlin

Serangan teror Hamas turut memicu reaksi musisi muda Arab dan Israel di akademi Barenboim-Said di Berlin, Jerman. Kendati memiliki…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Israel dan Palestina Bersatu Lewat Musik di Berlin
Deutsche Welle
Israel dan Palestina Bersatu Lewat Musik di Berlin 

Organisasi siswa dan manajemen sepakat bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman, kata Rapp dan Barenboim. Untuk menjaga ruang aman ini, pihak akademi melarang media terlibat dalam pertemuan-pertemuan mahasiswa dan bagi mahasiswa agar menghindari wawancara dengan awak pers.

Mengalahkan trauma dengan musik dan sebuah visi

Barenboim mencatat bahwa mahasiswa Palestina cenderung melihat teror 7 Oktober sebagai bagian dari konteks sejarah pendudukan Israel dan perjuangan kemerdekaan. Sedangkan bagi Israel, serangan Hamas telah mengubah segalanya. Pandangan tersebut hanyalah salah satu contoh, katanya, bagaimana peristiwa yang sama bisa dipahami secara berbeda. "Namun saya pikir kita semua sepakat bahwa kita ingin tetap di sini,” tambah dekan.

Ada satu hal yang menyatukan para mahasiswa, yakni musik. Karya-karya yang mereka latih menawarkan "sesuatu yang dapat mereka konsentrasikan, sesuatu yang dapat mereka kerjakan bersama. Jadi, menurut saya pekerjaan sehari-hari kami telah menghasilkan sebuah kohesi," kata Rapp.

"Saat ini sangat sulit bagi banyak dari kita untuk mengadakan konser. Namun bahkan di saat yang paling gelap ini, kita akan tetap mengikuti jejak pendiri kami, Daniel Barenboim dan Edward Said," tulis para musisi muda dalam program konser tanggal 23 Oktober, yang dibuka dengan mengheningkan cipta selama satu menit.

Seperti yang ditulis Daniel Barenboim dalam sebuah surat pernyataan jelang konser, cita-cita ini harus dikejar lebih giat ketimbang sebelumnya. "Pesan perdamaian kami harus disuarakan dengan lebih keras dari sebelumnya. Bahaya terbesar adalah jika orang yang mengimpikan damai dibuat letih oleh ekstremisme dan kekerasan."

"Kedua pihak harus bisa melihat musuhnya sebagai manusia dan berusaha berempati dengan sudut pandangnya, penderitaan dan kesulitan yang mereka alami. Warga Israel juga harus menerima bahwa pendudukan Palestina bertentangan dengan semangat perdamaian."

(rzn/hp)

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas