UE Enggan Disebut Standar Ganda soal Israel, Josep Borrell: Saya Agak Pro-Palestina
Petinggi Uni Eropa Josep Borrell mengaku agak Pro-Palestina meski enggan mengutuk Israel dan yakin mengutuk Hamas, yang sama-sama lakukan kekerasan.
Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Nanda Lusiana Saputri
TRIBUNNEWS.COM - Perwakilan Tinggi Urusan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Josep Borrell, dituduh menerapkan standar ganda setelah ia membedakan tindakan Hamas dan Israel dalam kekerasan yang terjadi berlangsung di Jalur Gaza saat ini.
Seorang jurnalis bertanya kepadanya apakah hukum internasional telah dilanggar oleh Israel di Jalur Gaza, seperti yang ia sebutkan pada Hamas, Josep Borrell memberikan jawaban yang bertentangan.
"Apakah Uni Eropa menganggap apa yang dilakukan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 sebagai kejahatan perang?" tanya Osman Ayfarah, pembawa acara di saluran TV Al Jazeera.
“Ya, kami menganggapnya sebagai kejahatan perang, karena membunuh warga sipil dengan cara yang jelas tanpa alasan apa pun, membunuh mereka hanya karena berada di sana, bukan karena alasan lain,” jawab Josep Borrell.
"Apakah Anda yang berada di Uni Eropa menganggap apa yang dilakukan oleh Israel adalah kejahatan perang?" tanya Osman Ayfarah.
"Saya bukan seorang pengacara untuk menentukannya," kata Josep Borrell.
Baca juga: Korban Tewas Perang Israel-Hamas di Palestina Capai 13.215, Termasuk 5.550 Anak Gaza dan Tepi Barat
Jawaban Josep Borrell yang bertentangan ini memperlihatkan perbedaan pandangan Uni Eropa terhadap aksi kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil, baik oleh Israel mau pun Hamas.
Josep Borrell dengan cepat menjawab ketika ditanya apakah UE percaya apa yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober 2023 di perbatasan Israel-Jalur Gaza adalah kejahatan perang.
Ia memberikan respons berbeda ketika ditanya mengenai pandangannya mengenai pemboman Israel terhadap warga sipil Palestina.
“Anda baru saja mengatakan kepada saya, ketika ditanya tentang Israel, bahwa Anda bukan seorang pengacara. Bagaimana kejelasan tuduhan Anda terhadap Hamas karena melakukan kejahatan perang? Dan ketika saya bertanya tentang Israel, Anda menjawab bahwa Anda bukan seorang pengacara, seperti yang sering dilakukan oleh banyak politisi Barat," kata Osman Ayfarah.
"Inilah sebabnya banyak orang menuduh Anda menerapkan standar ganda,” lanjutnya.
Meski demikian, Josep Borrell menyangkal Uni Eropa memiliki standar ganda dalam menyikapi kekerasan yang dilakukan Hamas dan Israel.
“Tidak, kami tidak memiliki standar ganda. Kami ingin mematuhi prinsip-prinsip berdasarkan apa yang telah kami saksikan. Dan secara pribadi, ya, hal ini dapat meningkat menjadi kejahatan perang. Tapi sekali lagi, Anda benar; kita harus membiarkan Pengadilan Kriminal Internasional memutuskan hal itu,” katanya.
Josep Borrell Mengaku 'Agak' Pro-Palestina
Baca juga: Alasan Pasukan Pertahanan Israel Targetkan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina
Meski dipandang menerapkan standar ganda, Josep Borrell mengaku dirinya agak pro-Palestina ketika menemui Presiden Israel, Isaac Herzog.
"Kami mengadakan pertemuan dengan Presiden Isaac Herzog. Itu berjalan dengan baik. Saya kebetulan agak pro-Palestina, jadi saya khawatir akan ada sambutan yang lebih dingin, tapi tidak. Dia senang kami pergi dan mengungkapkan perasaan kami," kata Josep Borrell kepada El Pais English, Senin (20/11/2023).
Ketika ditanyakan apakah Israel akan tetap membombardir Jalur Gaza untuk mengakhiri Hamas meski semua sandera dibebaskan, Josep Borrell tidak memberikan jawaban yang jelas dan mengalihkan pada masalah kekerasan di Tepi Barat.
"Mereka (Israel) tidak menganggap ada masalah kekerasan yang begitu serius di wilayah pendudukan. Ya, mereka disebut wilayah pendudukan," kata Josep Borrell menjelaskan respons Israel soal kritikan UE terhadap kekerasan di Tepi Barat.
Menurut Israel, kata Josep Borrell, tingkat kekerasan di Tepi Barat belum mencapai tingkat yang sama dengan yang terjadi di Gaza, namun mengakui terjadi pengingkatan kekerasan yang sangat besar.
"Kami prihatin dengan ledakan kekerasan baru di Tepi Barat, dimana warga Palestina tidak mempunyai kemampuan untuk membela diri," kata Josep Borrell.
Hamas Palestina vs Israel
Baca juga: Israel Serukan Genosida Lewat Lagu Anak-anak The Friendship Song 2023, Lalu Dihapus
Pandangan anggota Uni Eropa mulai terpecah setelah kekerasan terjadi di Jalur Gaza, di mana Prancis dan Spanyol menyerukan gencatan senjata.
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan mendukung Israel dan menyebutnya berhak membela diri melawan Hamas dengan mengebom Jalur Gaza.
Pemboman Israel yang masif di Jalur Gaza ini terjadi setelah Israel menanggapi Hamas Palestina, yang memulai Operasi Badai Al-Aqsa dengan menerobos perbatasan Israel dan Jalur Gaza pada Sabtu (7/10/2023) pagi.
Hamas mengatakan, serangan itu adalah tanggapan atas kekerasan yang dilakukan Israel terhadap Palestina selama ini, terutama kekerasan di kompleks Masjid Al Aqsa, seperti diberitakan Al Arabiya.
Kelompok tersebut juga meluncurkan ratusan roket, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang di wilayah Israel.
Pemboman Israel di Jalur Gaza menewaskan lebih dari 13.300 warga Palestina sejak Sabtu (7/10/2023) hingga perhitungan korban pada Selasa (21/11/2023), dikutip dari Anadolu Agency.
Israel menargetkan rumah sakit, sekolah, rumah warga, dan tempat publik lainnya yang mereka anggap sebagai markas Hamas.
Selain itu, kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina juga terjadi di Tepi Barat, wilayah yang dipimpin Otoritas Pembebasan Palestina (PLO).
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Berita lain terkait Konflik Palestina vs Israel
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.