Hamas hingga Jihad Islam Kecam Ditunjuknya Mohammad Mustafa oleh Abbas Jadi PM Palestina
Penunjukan Mohammad Mustafa menjadi PM Palestina yang baru menimbulkan kecaman dari Hamas hingga Jihad islam.
Penulis: Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor: Pravitri Retno W
TRIBUNNEWS.COM - Penunjukan Mohammad Mustafa sebagai Perdana Menteri (PM) Palestina oleh Presiden Palestina, Mahmud Abbas, berujung pengecaman.
Seperti diketahui, ditunjuknya Mohammad Mustafa lantaran PM Palestina sebelumnya, Mohammad Shtayyeh mengundurkan diri.
Adapun pengecaman itu dilakukan oleh Hamas, Jihad Islam, Popular Front for the Liberation of Palestine, dan National Initiative pada Jumat (15/3/2024).
Dikutip dari Anadolu Agency, empat kelompok perlawanan Palestina itu mempertanyakan alasan Abbas menunjuk Mohammad Mustafa menjadi PM Palestina yang baru.
Selain itu, mereka turut mempertanyakan kelayakan dan menyayangkan bahwa penunjukan PM baru berasal dari 'lingkungan politik yang sama'.
Hamas hingga National Initiative menilai penunjukan Mustafa akan memperdalam perpecahan.
Kelompok itu juga menyayangkan tidak adanya perundingan tingkat nasional terkait penunjukan Musatafa.
"Mengambil keputusan individu dan melakukan langkah-langkah yang dangkal dan kosong seperti membentuk pemerintahan baru tanpa konsensus nasional hanya akan memperkuat kebijakan unilateralisme dan memperdalam perpecahan," demikian tertulis dalam pernyataan resmi bersama.
Diketahui, penunjukan Mohammad Mustafa sebagai PM Palestina oleh Mahmud Abbas dilakukan pada Kamis (14/3/2024).
Hal ini dilakukan setelah PM Palestina sebelumnya mengundurkan diri secara mendadak pada 26 Februari 2024 lalu.
Dikutip dari Aljazeera, diduga mundurnya Shtayyeh lantaran adanya intervensi dari pihak asing dengan mengintervensi pemerintah di Gaza.
Baca juga: Langka! Pejabat Senior Hamas dan Houthi Bertemu, Disebut Bahas Kemungkinan Serangan Israel ke Rafah
Pada saat itu, Shtayyeh mengatakan bahwa keputusan dirinya mundur lantaran 'eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya' di Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki hingga perang di Gaza.
"Saya melihat tahap selanjutnya dan tantangan-tantangannya memerlukan pengaturan pemerintahan dan politik baru yang mempertimbangkan realitas baru di Gaza dan perlunya konteks Palestina-Palestina berdasarkan persatuan Palestina," kata Shtayyeh.
Profil Mohammad Mustafa
Mohammad Mustafa merupakan lulusan Universitas Geordge Washington dan menjadi anggota komite eksekutif independen Organisasi Pembebasan Palestina yang didominasi gerakan dari organisasi Fatah.