Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Apakah China masih bisa disebut sebagai negara komunis?

75 tahun yang lalu, Partai Komunis mendirikan Republik Rakyat China. Namun saat ini, China berkembang menjadi negara adidaya ekonomi…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Apakah China masih bisa disebut sebagai negara komunis?
BBC Indonesia
Apakah China masih bisa disebut sebagai negara komunis? 

75 tahun silam, Mao mengkolektifkan tenaga kerja, memusatkan perekonomian, dan mempersekusi para pendukung kapitalisme. Sedangkan China saat ini menjadi negara dengan jumlah jutawan kedua terbanyak di dunia (lebih dari enam juta orang menurut Laporan Kekayaan Global UBS terbaru).

Hanya Amerika Serikat yang melampaui nilai Produk Domestik Bruto (PDB) China.

China memiliki 133 perusahaan dalam daftar perusahaan terbesar di dunia menurut Majalah Fortune tahun 2024. Jumlah itu hanya terpaut enam perusahaan dari AS yang memiliki 139.

China juga memiliki sektor perbankan terkaya serta bank dengan aset terbesar, yakni Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).

Lalu, bagaimana negara komunis terbesar di dunia bisa mencapai kekayaan sedemikian besar, bahkan diprediksi akan menjadi negara adidaya ekonomi terbesar di dunia?

Ini semua berkat perubahan yang diperkenalkan oleh Deng Xiaoping sejak 1978, dua tahun setelah kematian Mao.

Deng mempromosikan program ekonomi yang kemudian dikenal sebagai "Reformasi dan Keterbukaan" —berlawanan dengan gagasan Mao.

Rekomendasi Untuk Anda

Deng meliberalisasi ekonomi, membuka pintu bagi sektor swasta, dan mendesentralisasi kekuasaan sehingga otoritas lokal punya wewenang mengambil keputusan.

Deng membubarkan komune-komune secara bertahap, lalu memberi keleluasaan kepada para petani untuk mengelola tanah yang mereka garap.

Para era Deng, China akhirnya mulai membuka diri kepada dunia luar.

Dia berkunjung ke Washington dan menjalin hubungan dengan AS.

Langkah itu kemudian dibalas oleh Presiden AS Richard Nixon, yang berkunjung ke Beijing pada tahun terakhir pemerintahan Deng, di tengah Perang Dingin.

Hubungan perdagangan antara China dan Barat pun dimulai. Ini memberi jalan bagi investasi asing dan perusahaan multinasional yang menjadi ikon kapitalisme seperti Coca-Cola, Boeing, dan McDonald's.

'Sosialisme ala China'

Model ekonomi berbasis pada ekonomi pasar yang diperkenalkan oleh Deng dinamai "sosialisme dengan karakteristik China".

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas