Israel Rugi Besar, Oktober Jadi Bulan Paling Mematikan bagi Zionis
Angka resmi mencatat Israel mengalami kerugian dramatis dari lini militernya selama Oktober 2024, dalam perang di Gaza dan Lebanon.
Penulis: Pravitri Retno Widyastuti
Editor: Sri Juliati
Sementara, lainnya tewas dalam kecelakaan lalu lintas.
Banyak prajurit yang diidentifikasi hanya berdasarkan nama, pangkat, dan unit mereka, tanpa rincian lebih lanjut tentang keadaan kematian mereka.
Angka baru yang dirilis minggu ini oleh departemen rehabilitasi militer Israel juga menunjukkan peningkatan terkini dalam jumlah prajurit yang terluka dan memerlukan perawatan medis.
Pada Selasa (29/10/2024), dikatakan rumah sakit di Israel telah menerima 910 tentara yang terluka bulan ini di Lebanon.
Informasi tentang korban diawasi secara ketat di wilayah yang diduduki Israel, di mana media menjadi sasaran sensor militer yang ketat.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, angka resmi yang dirilis tidak mencerminkan skala sebenarnya kerugian yang diderita pasukan Israel di Gaza dan Lebanon.
Baca juga: Buldoser Israel Hancurkan Kantor UNRWA di Tepi Barat, Tel Aviv Ogah Akui Bertanggung Jawab
Dalam wawancara di Channel 12 pada Senin (28/10/2024), pemimpin oposisi Yair Lapid mengatakan, 890 tentara telah tewas dan 11.000 terluka sejak Operasi Banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober tahun lalu.
Dalam angka terbarunya yang dirilis pada Selasa, departemen rehabilitasi militer Israel memperbarui jumlah total prajurit yang dikatakannya telah menerima perawatan sejak dimulainya perang Gaza menjadi sekitar 12.000.
Sekitar 14 persen dari mereka, sekitar 1.680 tentara, tergolong mengalami cedera sedang atau serius.
Sementara, sekitar 43 persen atau 5.200 tentara, memerlukan perawatan untuk gangguan stres pascatrauma atau masalah psikologis lainnya, kata departemen tersebut.
Jurnalis Israel, Amos Harel, bertanya di surat kabar Haaretz, apakah meningkatnya jumlah korban tewas dapat "secara bertahap mengubah pandangan publik tentang perlunya melanjutkan perang".
Ia menambahkan, pemerintahan Israel saat ini yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sedang mencoba menggambarkan serangkaian serangan militer baru-baru ini di Jalur Gaza, Iran, dan Lebanon sebagai sebuah pencapaian dan bahwa perang harus terus berlanjut di setiap lini.
"Namun pada kenyataannya, mustahil untuk mengabaikan harga yang harus dibayar jika perang dilanjutkan lebih lama lagi," tegas Harel.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W)