Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Persaingan Israel dan Turki, Pertarungan antara 'Israel Raya' dan 'Neo-Ottomanisme' di Suriah

Pada bulan Januari, Komite Pemeriksaan Anggaran Keamanan dan Pembangunan Kekuatan Israel – yang dikenal sebagai Komite Nagel, sesuai dengan nama ketua

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Muhammad Barir
zoom-in Persaingan Israel dan Turki, Pertarungan antara 'Israel Raya' dan 'Neo-Ottomanisme' di Suriah
Engin Yapici /Unsplash
Ilustrasi suasana di Eminonu, Istanbul, Turki dilihat dari laut. 

Persaingan Israel dan Turki, Pertarungan antara 'Israel Raya' dan 'Neo-Ottomanisme' di Suriah

TRIBUNNEWS.COM- Pada bulan Januari, Komite Pemeriksaan Anggaran Keamanan dan Pembangunan Kekuatan Israel – yang dikenal sebagai Komite Nagel, sesuai dengan nama ketuanya Yaakov Nagel – merilis laporan yang menyoroti potensi ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh aliansi Suriah–Turki. 

Komite tersebut memperingatkan bahwa poros yang muncul ini dapat berkembang menjadi tantangan yang bahkan lebih besar daripada Iran, dan menyimpulkan bahwa Israel harus bersiap untuk konfrontasi langsung dengan Turki, dengan mengutip ambisi Ankara untuk memulihkan pengaruh era Ottoman.

Kurang dari dua bulan setelah laporan itu dirilis, militer Israel meluncurkan akun berbahasa Turki baru di platform media sosial X dan Telegram, memperluas jangkauannya ke tujuh bahasa: Ibrani, Inggris, Arab, Prancis, Spanyol, Persia, dan sekarang Turki

Langkah itu menimbulkan pertanyaan penting: Apakah mitra dagang utama Turki menjadi ancaman langsung bagi Israel?

Dari mitra menjadi pesaing 

Dalam geopolitik, aliansi sering kali bersifat sementara, ditentukan oleh kepentingan bersama, bukan oleh keselarasan ideologis. 

Rekomendasi Untuk Anda

Israel dan Turki pernah berbagi kerja sama strategis pada tahun 1990-an dan awal 2000-an, dengan hubungan militer dan intelijen yang luas. 

Saat itu, kedua negara memandang Iran dan Suriah di bawah pemerintahan keluarga Assad sebagai musuh bersama. 

Namun, seiring dengan perubahan dinamika regional, persaingan laten antara keduanya pun muncul. 

Kini, Ankara dan Tel Aviv berada di pihak yang berseberangan dalam restrukturisasi pascaperang Suriah, masing-masing memandang satu sama lain sebagai pesaing langsung.

Dengan kata lain, dua negara dapat menjadi sekutu resmi – atau setidaknya bukan musuh – namun tetap bersaing untuk mendapatkan hegemoni regional. 

Realitas ini menyebabkan potensi ketegangan dan konflik, karena masing-masing pihak berusaha untuk mengonsolidasikan pengaruhnya sendiri dan dipandang sebagai ancaman bagi pihak lain. 

Hubungan antara Turki dan Israel menggambarkan tumpang tindih antara kepentingan bersama – seperti menahan Iran – dan ambisi yang saling bertentangan, sehingga menciptakan keseimbangan yang rumit antara kerja sama dan persaingan. 

Aliansi bukanlah entitas yang statis, tetapi berkembang seiring dengan perubahan kalkulasi strategis, terutama ketika kekosongan politik – seperti di Suriah pasca-mantan presiden Bashar al-Assad – memikat kekuatan yang bercita-cita untuk mendapatkan hegemoni regional.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas