Viral Guru di Korsel Akhiri Hidup setelah Diteror Wali Murid, Keluarga Rilis Chat Terakhir
Salah seorang guru di Jeju, Korea Selatan nekat mengkhiri hidup setelah mendapatkan teror dari wali murid. Keluarga pun rilis chat terakhirnya.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Garudea Prabawati
Telepon kadang-kadang berdering sekitar sepuluh kali sehari.
Rekaman panggilan telepon seluler Guru A, yang dirilis oleh keluarga, berisi panggilan telepon dengan pengadu siang dan malam, dari jam 9 pagi hingga lewat jam 8 malam.
"Jika Anda melihat pesan KakaoTalk, tidak ada paksaan. Jika Anda mengatakan, 'Saya sakit,' ia berkata, 'Pergi ke rumah sakit dan kemudian datang ke sekolah.'" kata perwakilan keluarga Guru A.
"Bapak A akhir-akhir ini tidak makan dengan benar dan tidak pernah ke rumah sakit."
"Yang ia lakukan hanyalah mengajar dan membimbing siswa SMP kelas tiga dengan tulus. Ia mengalami masa-masa sulit, menderita sendirian," lanjutnya.
Guru A ditemukan tewas di gudang sekolah sekitar pukul 00.46 dini hari waktu setempat.
Istri Guru A yang tidak dapat menghubunginya melaporkan dia hilang ke polisi.
Polisi yang memulai pencarian menemukan jasadnya di gudang di belakang gedung utama sekolah. Ada surat wasiat yang ditinggalkan di kantor guru.
"Tidak ada tanda-tanda pembunuhan, jadi kami akan melanjutkan pemakaman dan kemudian menyelidiki penyebab kematian almarhum," kata salah seorang pejabat polisi Jeju.
Pihak kepolisian Jeju mengatakan, apabila Guru A terus menerus menerima ancaman melalui telepon dari wali murid dan sebagainya, maka akan mempertimbangkan untuk menerapkan pidana intimidasi dan sebagainya kepada keluarga yang bersangkutan.
Baca juga: Spesifikasi Roket Chunmoo: Sistem Artileri Canggih Korea Selatan yang Mampu Jangkau 290 Kilometer
Serikat Guru Serukan Penyelidikan Menyeluruh
Aksi unjuk rasa digelar silih berganti untuk mengenang Guru A yang ditemukan tewas setelah mendapatkan teror dari salah seorang wali murid.
Menurut Serikat Guru dan Pekerja Pendidikan Korea, pihaknya akan mengadakan upacara peringatan di depan Kantor Pendidikan Provinsi Jeju pada Jumat (30/5/2025), untuk menuntut pengakuan kematian guru A sebagai kematian saat menjalankan tugas dan penyelidikan menyeluruh.
Hingga 1.000 orang, termasuk keluarga almarhum, guru, dan siswa, diperkirakan akan menghadiri rapat umum ini.
Federasi Asosiasi Guru Korea (KFTA) dan Federasi Asosiasi Guru Jeju juga telah mendesak penyelidikan atas kebenaran di balik insiden ini dan penetapan langkah-langkah untuk melindungi hak-hak guru.
"Insiden ini adalah tragedi yang disebabkan oleh pengaduan jahat yang terus-menerus dari wali murid mengenai kegiatan dan bimbingan pendidikan yang sah dari guru tersebut, dan kami melihatnya sebagai ‘insiden Sekolah Dasar Seo-i’ yang kedua," tulis KFTA, dikutip dari FN News.
Baca tanpa iklan