Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Festival Panen India di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Festival musim semi agraris di India dibayangi perubahan iklim. Bagaimana warga menghadapi ancaman terhadap hasil panen, sumber air,…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Festival Panen India di Tengah Ancaman Perubahan Iklim
Deutsche Welle
Festival Panen India di Tengah Ancaman Perubahan Iklim 

Sebagian wilayah pedesaan di India utara saat ini dipenuhi dengan warna-warni yang memukau. Bukan hanya karena datangnya musim semi, tetapi juga karena festival musiman yang ditandai dengan musik rakyat, tarian, petani berbusana tradisional, dan hidangan seperti nasi manis beraroma safron.

Salah satu festivalnya adalah Vaisakhi, hari penting dalam kalender Sikh. Dirayakan di utara negara bagian Punjab, festival ini menandai keberhasilan panen gandum musim dingin beserta tanaman lain seperti sawi, buncis, lentil, jelai, dan biji bunga matahari.

"Ketika tanaman sudah siap dipanen, semua petani berkumpul bersama untuk merayakannya," kata Ashwani Ghudda, seorang pekerja sosial setempat, kepada DW. "Mereka memanjatkan doa, mengunjungi pesta rakyat, lalu bersiap memulai panen."

Punjab, yang saat ini memproduksi 10% gandum dan 15?ras India, adalah negara bagian yang secara historis agraris sehingga pertanian telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. "Banyak cerita rakyat dan perayaan yang lahir dari sana," kata Harindar Grewal, konsultan lingkungan dari lembaga nirlaba Citizens for Change Foundation yang berbasis di India tengah.

Gambaran serupa terlihat di wilayah timur Assam. Di sini, festival Bohag Bihu menandai peralihan dari musim kering ke awal siklus pertanian melalui nyanyian, tarian, dan ritual yang berfokus pada pemeliharaan ternak.

Chandana Sarma, profesor madya Antropologi di Cotton University, Assam, mengatakan perayaan ini berakar pada ritual kesuburan kuno dan berfungsi "sebagai penanda kalender ritual pembaruan ekologi, di mana pertanian, seksualitas, dan reproduksi sosial terintegrasi."

Menurutnya, hal ini mencerminkan ketergantungan yang kuat antara manusia, alam, dan sistem penghidupan di komunitas lokal.

Tekanan iklim di balik perayaan

Rekomendasi Untuk Anda

Tahun ini, berbagai festival itu berlangsung di tengah berbagai tantangan iklim yang telah merusak tanaman di kedua wilayah tersebut.

Di Assam, kurang lebih 20.000 hektare lahan pertanian rusak akibat banjir dan hujan es selama setahun terakhir. Pemerintah daerah mengaitkan hal ini dengan bencana hidrometeorologi. Bulan ini pula, hujan dan badai es di luar musim telah merusak tanaman gandum di lebih dari 135.000 hektare di tujuh distrik di Punjab.

Grewal mengatakan para petani tidak lagi bisa mengandalkan curah hujan yang datang pada Desember dan Januari, saat hujan justru dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan gandum. Jika hujan turun ketika biji gandum sedang terbentuk atau matang, "itu mendatangkan banyak masalah," ujarnya.

Selain menghadapi tekanan akibat perubahan iklim, sistem pertanian negara bagian ini juga menghadapi masalah struktural yang sudah lama mengakar.

Praktik rotasi antara tanaman gandum dan padi yang luas telah menyebabkan berkurangnya cadangan air tanah. Menurut Grewal, hal tersebut diperparah oleh kebijakan listrik gratis dari pemerintah negara bagian. Kebijakan ini mendorong petani memompa air secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang membutuhkan banyak air.

"Punjab bukanlah daerah yang secara alami cocok untuk menanam padi, tidak seperti India bagian timur laut yang memiliki curah hujan yang melimpah."

Assam, salah satu negara bagian terbasah di India, menghadapi tantangan iklimnya sendiri. Suhu rata-rata telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan negara bagian ini rentan terhadap frekuensi hujan lebat yang semakin sering dan tidak menentu.

Sejak 2020, lahan pertanian seluas 1,3 juta hektare rusak akibat banjir, badai, atau badai es. Luas lahan ini setara hampir tujuh kali luas Kota New York. Sejumlah petani telah beralih ke varietas tanaman baru dan meningkatkan sistem irigasi untuk menghadapi tantangan pemanasan global. Namun, sebuah studi terbaru menemukan bahwa banyak yang masih kesulitan beradaptasi. Para peneliti menyebutkan terbatasnya akses kredit, kekurangan lahan, dan kurangnya dukungan pemerintah sebagai faktor yang menghambat diversifikasi yang lebih luas.

Dukungan apa yang dibutuhkan petani?

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas