Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Festival Panen India di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Festival musim semi agraris di India dibayangi perubahan iklim. Bagaimana warga menghadapi ancaman terhadap hasil panen, sumber air,…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Festival Panen India di Tengah Ancaman Perubahan Iklim
Deutsche Welle
Festival Panen India di Tengah Ancaman Perubahan Iklim 

Pemerintah Punjab telah mengerahkan tim besar untuk menilai kerusakan tanaman terkini. Sementara itu, pejabat Assam menyatakan bahwa mereka bersama pemerintah pusat telah menyalurkan bantuan senilai 439 juta dolar AS (sekitar Rp7,54 triliun) untuk mendukung petani yang terdampak bencana akibat perubahan iklim.

Meski begitu, Grewal menilai dukungan kelembagaan yang lebih kuat masih diperlukan untuk membantu petani sekaligus menjaga ketahanan pangan. Salah satu caranya adalah menyediakan tempat berlindung bagi petani yang membawa hasil panen ke pasar pertanian setempat untuk mencari pembeli agar mereka tidak harus menunggu di luar dengan kendaraan penuh muatan hasil pertanian.

"Saat hujan mulai turun, itu merusak tanaman mereka," katanya. "Jika ada gudang dan fasilitas lainnya, kerugian itu bisa dikurangi."

Untuk jangka panjang, Grewal menyarankan perlunya menata ulang praktik pertanian, termasuk mengurangi ketergantungan pada padi yang ditanam sawah.

"Petani bisa beralih ke agroforestri dan hortikultura, termasuk pertanian rumah kaca seperti yang digunakan di banyak negara untuk meningkatkan produktivitas," katanya. Ia menekankan bahwa setiap perubahan harus tetap melindungi keberlanjutan lahan pertanian dalam jangka panjang.

"Petani Punjab itu gigih dan berjiwa wirausaha, dan kerja keras merekalah yang menggerakkan Revolusi Hijau. Yang dibutuhkan sekarang adalah tekad yang kuat," tegasnya.

Meski kondisi terus berubah, festival-festival itu tetap menjadi bingkai kehidupan pertanian.

Rekomendasi Untuk Anda

"Saat ini, Bohag Bihu lebih berfungsi sebagai kerangka budaya daripada sekadar ritual pertanian langsung," kata Chandana Sarma dari Cotton University.

"Festival ini menjadi jembatan antara dunia kehidupan agraris masa lalu dan ekonomi campuran masa kini, serta mempertahankan makna budaya meski praktik pertanian terus berkembang."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Algadri Muhammad

Editor: Hani Anggraini

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas