Perang Chip AS-Cina: Siapa yang Kuasai Masa Depan AI?
Pembatasan AS terhadap chip canggih mendorong Cina membangun ekosistem semikonduktornya sendiri. Meski masih tertinggal di lini paling…
“Ada batasan sejauh mana Anda bisa berkembang tanpa akses ke chipset paling canggih milik AS,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Cina mungkin membutuhkan “sekitar satu dekade” untuk mengejar ketertinggalan.
Mencerminkan perubahan prioritas, Rencana Lima Tahun terbaru Partai Komunis Cina tidak lagi terlalu menekankan dominasi chip. Dokumen tersebut lebih menyoroti AI dan memperkenalkan kerangka “model-chip-cloud-application,” yang menempatkan chip sebagai bagian dari ekosistem komputasi yang lebih luas.
Rencana B Cina memicu rivalitas baru
Cina kini lebih fokus pada kecedrasan buatan atau akal imitasi (AI) praktis berbasis tugas untuk industri yang membutuhkan daya komputasi lebih rendah, sesuatu yang dapat ditangani oleh chip domestik.
Meski tidak berada di garis depan teknologi, sistem chip dan AI Cina menawarkan kinerja kuat dengan biaya jauh lebih rendah. Hal ini mendorong adopsi cepat di Global South, di mana pemerintah dan perusahaan semakin memilih solusi Cina dibandingkan Barat.
Firma intelijen pasar TrendForce mencatat bahwa platform AI Cina seperti DeepSeek dan Qwen milik Alibaba telah menguasai sekitar 15% pasar model AI global pada akhir 2025.
Hal ini menjadi ancaman jangka panjang bagi dominasi global perusahaan teknologi AS seperti Microsoft dan Google, yang diperkirakan menghabiskan rekor 700 miliar dolar AS (sekitar Rp11,2 kuadriliun) tahun ini untuk infrastruktur AI menurut Goldman Sachs.
Keunggulan AS menghadapi tantangan nyata
Ada hambatan lain bagi ambisi Silicon Valley untuk menciptakan AI yang melampaui kecerdasan manusia. Pada Januari, penyedia intelijen pasar ICIS memperingatkan bahwa pusat data AS, yang bergantung pada chip kelas atas, dapat segera dibatasi oleh jaringan listrik yang tertekan.
Sebaliknya, sektor energi Cina yang berkembang pesat memberikan keuntungan tambahan. Dengan perkiraan kapasitas cadangan listrik mencapai 400 gigawatt pada 2030, Cina dapat membangun pusat data dalam skala besar meski chipnya kurang efisien.
“Energi murah adalah faktor sangat penting, bukan hanya untuk chip tetapi juga untuk AI dan teknologi maju lainnya,” kata Ryu Yongwook.
ICIS melihat tiga kemungkinan hasil dalam persaingan chip:
AS mempertahankan keunggulan dengan memperbaiki jaringan listriknya. AS tetap memimpin riset AI dengan chip canggih, sementara sistem AI Cina menyebar di Global Selatan. Jika ketegangan geopolitik meningkat, dua ekosistem AI terpisah dapat muncul.
Meskipun garis akhir masih jauh, industri chip menghadapi masa depan di mana pesaing Cina tidak hanya menawarkan harga lebih rendah, tetapi juga semakin cepat menutup kesenjangan dalam kecanggihan dan keandalan produk.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

Baca tanpa iklan