Iran dan AS Saling Balas Dendam: Tembaki dan Sita Kapal di Selat Hormuz hingga Pertahankan Blokade
Iran telah menembaki kapal-kapal untuk mencegah mereka berlayar melalui Selat Hormuz di pintu masuk Teluk Timur Tengah.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Sepanjang konflik, Iran secara efektif membatasi jalur melalui Selat Hormuz.
- AS telah memberlakukan blokade terhadap perdagangan laut Iran.
- Sementara Iran telah menembaki kapal-kapal untuk mencegah mereka berlayar melalui Selat Hormuz di pintu masuk Teluk Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM - Terjadi lebih dari 30 serangan terhadap kapal di Timur Tengah sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari 2026 dengan serangan mendadak terhadap Iran.
Kemampuan Iran untuk membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz - yang menghubungkan Teluk Persia ke samudra lepas - telah terbukti menjadi keuntungan strategis utama.
Sepanjang konflik, Iran secara efektif membatasi jalur melalui Selat Hormuz dengan menargetkan kapal-kapal yang mencoba melintas tanpa izinnya.
Jalur air ini biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Pada Rabu (22/4/2026), Iran menembaki tiga kapal di Selat Hormuz dan menyita dua di antaranya, mengintensifkan serangannya terhadap pelayaran di jalur air utama tersebut.
Dilansir AP News, serangan itu terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata sambil tetap mempertahankan blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan antara AS dan Iran secara efektif telah mencekik hampir semua ekspor melalui selat tersebut - tempat 20 persen minyak dunia yang diperdagangkan melewatinya pada masa damai - tanpa ada tanda-tanda akan berakhir.
Media Iran mengatakan, Garda Revolusi paramiliter membawa kedua kapal tersebut ke Iran, menandai eskalasi lebih lanjut, meskipun Gedung Putih mengatakan bahwa penyitaan tersebut tidak melanggar ketentuan gencatan senjata.
Pada hari yang sama, militer AS mencegat setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia dan mengalihkan rute mereka dari posisi dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka, menurut sumber-sumber perkapalan dan keamanan.
AS telah memberlakukan blokade terhadap perdagangan laut Iran, sementara Iran telah menembaki kapal-kapal untuk mencegah mereka berlayar melalui Selat Hormuz di pintu masuk Teluk Timur Tengah.
Hampir dua bulan setelah AS dan Israel memulai perang mereka terhadap Iran, hanya ada sedikit tanda-tanda perundingan perdamaian akan dilanjutkan selama gencatan senjata yang tidak stabil.
Baca juga: Pentagon Pecat Menteri Angkatan Laut AS di Tengah Perang Iran
Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pasokan seperlima dari cadangan minyak dan gas dunia, dan menyebabkan krisis energi global.
Dikutip dari Al Arabiya, pasukan AS telah menyita sebuah kapal kargo Iran dan sebuah kapal tanker minyak dalam beberapa hari terakhir.
Menurut dua sumber perkapalan AS dan India serta dua sumber keamanan maritim Barat yang berbicara kepada Reuters pada hari Rabu, AS telah mengalihkan setidaknya tiga kapal tanker minyak berbendera Iran lagi dalam beberapa hari terakhir.
Salah satu kapal tersebut adalah kapal tanker super Deep Sea berbendera Iran, yang sebagian muatannya berupa minyak mentah dan terakhir terlihat di transponder pelacak publiknya di lepas pantai Malaysia seminggu yang lalu, menurut sumber dan data pelacakan kapal di platform MarineTraffic.
Baca tanpa iklan