Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Perompak Somalia bangkit lagi – 'Laut adalah bisnis kami'

Dua nelayan Somalia menuturkan kepada BBC alasan mengapa mereka memutuskan menjadi perompak.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Perompak Somalia bangkit lagi – 'Laut adalah bisnis kami'
BBC Indonesia
Perompak Somalia bangkit lagi – 'Laut adalah bisnis kami' 

Adado, sebuah kota di Somalia tempat para perompak pernah berinvestasi, mendapat julukan "Blue City" karena rumah-rumah mewah yang baru dibangun sering memiliki atap seng dicat biru.

Banyak rumah tersebut kini kosong atau tersedia untuk disewa dengan harga US$100 per bulan.

Di Eyl, para tetua mengatakan warisan utama pembajakan adalah maraknya alkohol, yang sering diselundupkan dari Ethiopia, serta narkoba seperti opioid. Beberapa pria muda bahkan kecanduan.

Para pria yang berkumpul di luar kedai teh pada sore hari untuk bermain domino mengatakan mereka tidak menyetujui pembajakan—meskipun mereka memahami sikap para nelayan yang benci terhadap kapal asing.

Insiden terbaru tiga nelayan yang ditembak mati jelas membuat banyak orang geram.

Ali Mursal Muse, yang telah menangkap lobster dan hiu di perairan Eyl selama sekitar 40 tahun untuk menghidupi istri dan 12 anaknya, meyakini mereka disangka perompak.

"Kami berangkat dari sini dengan kapal nelayan lain dan pergi ke laut. Pada saat yang sama para perompak mencoba membajak sebuah kapal. Sebuah pesawat datang. Kapal saya kembali ke pantai; kapal nelayan yang lain diserang," kenangnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Hawa Mohamed Zubery adalah seorang janda berusia 40 tahun. Dia meyakini suaminya disangka perompak ketika ia menghilang 14 tahun lalu.

Hal itu terjadi ketika pembajakan sedang marak-maraknya dan Hawa baru saja melahirkan seorang putra.

"Suami saya berpikir bahwa jika ia menangkap seekor hiu, kami bisa membayar biaya persalinan," katanya kepada BBC.

Hawa mengatakan kesulitan membayar biaya sekolah anak-anaknya dari penghasilannya menjual samosa.

Ali Mursal Muse mengatakan masalah utama baginya saat ini adalah perilaku tidak etis armada penangkap ikan dari negara-negara seperti Iran dan Yaman, yang sering mencuri peralatannya.

Dia percaya kapal-kapal itu diberi izin penangkapan ikan yang palsu oleh penguasa lokal, yang juga menyediakan orang-orang bersenjata untuk perlindungan.

Dia menuduh mereka menjarah hasil tangkapan dan menyerobot wilayah tangkapannya.

"Mereka punya zona tempat mereka bekerja dan bahkan datang sampai ke pantai. Ketika kami meminta kembali peralatan kami, mereka menembaki kami. Baru-baru ini, mereka melukai beberapa orang. Mereka menembak seorang anak laki-laki, melukai tangan dan kakinya."

Nelayan itu mengatakan ia telah mengadukan hal ini kepada otoritas setempat berkali-kali, tetapi tidak pernah ada tindakan.

Menteri Informasi Puntland, Caydid Dirir, mengakui keberadaan beberapa kapal ilegal dan mengatakan beberapa kapal asing mungkin diberi izin dan "menyalahgunakannya".

"Penangkapan ikan ilegal ada di semua laut, dan pembajakan bisa terjadi di mana saja. Kemajuan sedang dicapai secara bertahap," katanya kepada BBC.

Penangkapan ikan ilegal telah menjadi isu kontroversial di Somalia selama bertahun-tahun.

Banyak kapal penangkap ikan beroperasi tanpa izin atau dengan izin yang dikeluarkan oleh lembaga yang tidak memiliki kewenangan untuk melakukannya, menurut Global Initiative against Transnational Organised Crime.

Lembaga tersebut mengutip bukti, termasuk data navigasi satelit, yang menunjukkan bahwa banyak kapal berasal dari China, Iran, Yaman, dan Asia Tenggara.

Sebuah laporan dari Kedutaan Besar AS di Mogadishu menyebutkan Somalia kehilangan US$300 juta setiap tahun akibat hal ini.

Laksamana Muda, Manuel Alvargonzález Méndez, dari Operasi Atalanta mengatakan pasukannya hanya menargetkan kapal perompak dan kini juga harus melindungi kapal dari pemberontak Houthi Yaman.

Namun ia menegaskan kawasan tersebut jauh lebih aman dan warga Somalia kini dapat "melempar jaring ikan mereka tanpa rasa takut" – demikian pula Pasukan Polisi Maritim Puntland, yang bekerja erat dengan misi angkatan laut Uni Eropa.

Komandannya, Farhan Awil Hashi, yakin bahwa wilayah itu tidak akan kembali ke "masa kelam" pembajakan.

Ia percaya solusi jangka panjangnya adalah "penciptaan lapangan kerja".

"Anak muda harus selalu memiliki pekerjaan. Jika seseorang sibuk melakukan sesuatu, mereka tidak akan memikirkan untuk pergi ke laut dan membajak kapal," katanya kepada BBC.

Farah dan Diiriye menyampaikan argumen yang sama – mereka mengatakan karena penangkapan ikan tidak lagi menghasilkan, membajak kapal untuk tebusan adalah satu-satunya cara mendukung anak-anak mereka.

Mereka tahu pembajakan itu salah – dan Diiriye mengakui ia terlalu takut untuk memberi tahu ibunya sendiri.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas