Daftar 5 Kapal Indonesia Diberi Nama Pahlawan, Siap Dobrak Blokade Israel
5 kapal Indonesia turut serta dalam misi untuk mendobrak blokade Israel, mereka bertujuan untuk memberikan pertolongan terhadap warga Gaza.
Penulis:
Muhammad Barir
Para relawan akan bergabung dengan ribuan relawan dari 44 negara yang akan berlayar ke Gaza dengan misi membuka blokade, meneguhkan kemanusiaan, dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Relawan Indonesia menyumbangkan 5 kapal, dengan 30 relawan yang akan bergabung dalam pelayaran kemanusiaan ini.
Kami sangat bangga dan terharu, karena kelima kapal tersebut diberi nama-nama pahlawan bangsa, yaitu Sukarno, Diponegoto, Hasanuddin, Pati Unus, dan Malahayati. Hal ini meneguhkan, bahwa Indonesia kokoh berjuang untuk kemerdekaan Palestina dan pembebasan blokade di Gaza.
Kami juga menggelar acara DOA UNTUK GAZA, DOA UNTUK PALESTINA, dengan membaca Hizb Bahr atau Doa Laut, yang lahir di Tunidia oleh seorang Waliyullah, Imam Abul Hasan al-Syadzili. Doa ini, mudah-mudahan dapat melancarkan perjalanan, mensuskseskan misi kemanusiaan, dan kemerdekaan Palestina.
Saya sampaikan, bahwa para relawan hakikatnya menjalankan pesan Bung Karno, bahwa Indonesia belum benar-benar merdeka, jika Palestina belum merdeka. Sebab itu, kita semua, warga dan bangsa Indonesia harus berjuang untuk kemerdekaan Palestina".
Kapal-kapal Spanyol Tiba di Tunisia Bergabung Armada Kapal Menuju Gaza, Siap Dobrak Blokade Israel
Kapal-kapal dari Spanyol tiba di Tunisia pada hari Minggu untuk mengambil bagian dalam armada internasional yang menuju Gaza untuk mematahkan blokade Israel di daerah kantong Palestina tersebut.
"Kami di sini untuk mendukung tujuan yang sama dan mengecam puluhan tahun genosida oleh negara pendudukan," ujar Diego Elvira, juru bicara delegasi Spanyol, dalam konferensi pers di Pelabuhan Sidi Bou Said di ibu kota Tunis.
Elvira mengatakan misi Armada Sumud Global adalah “mendobrak blokade (Israel) dan menciptakan koridor kemanusiaan.”
“Rezim Zionis rasis ini harus dikalahkan,” kata juru bicara tersebut.
"Kami tiba di sini (Tunisia) setelah berlayar dari Spanyol selama tujuh hari. Kami menghadapi banyak tantangan dan badai, tetapi semua ini tidak sebanding dengan apa yang akan kami hadapi di perjalanan berikutnya, dan semua yang kami tanggung tidak sebanding dengan satu hari yang harus ditanggung rakyat Palestina," ujarnya.
Sekitar 150 aktivis, termasuk warga Tunisia, warga negara Turki, dan aktivis dari seluruh Eropa, Afrika, dan Asia, berpartisipasi dalam inisiatif ini. Armada tersebut berlayar dari Barcelona pada 22 Agustus, diikuti oleh kelompok lain yang berangkat dari pelabuhan Genoa di Italia minggu lalu.