Krisis Gaza Memuncak, Lebih dari 1 Juta Warga Mengungsi Akibat Serangan Israel
63.000 bayi dan anak kecil memerlukan bantuan gizi darurat, ribuan perempuan hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi akut.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
TRIBUNNEWS.COM – Situasi kemanusiaan di Gaza kian memburuk.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa jalur kehidupan terakhir bagi warga sipil di Kota Gaza kini runtuh seiring meningkatnya operasi militer Israel.
Dalam lima hari terakhir, sebanyak 11 lokasi UNRWA yang berfungsi sebagai tempat penampungan darurat bagi sekitar 11.000 orang rusak akibat serangan langsung maupun tidak langsung.
Pengungsian Massal di Gaza
Dilansir dari website resmi PBB, sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas runtuh pada Maret 2025, lebih dari satu juta warga telah mengungsi.
Angka itu melonjak cepat, dengan sekitar 200.000 pengungsi tercatat hanya dalam sebulan terakhir.
Baca juga: Macron: Aksi Militer Israel Gagal di Gaza, Solusinya Akui Negara Palestina
Kendati ada pembatasan ketat, PBB bersama mitra lokal tetap menyalurkan bantuan.
Ratusan ribu makanan hangat disajikan setiap hari, termasuk distribusi roti, tepung, hingga paket makanan bayi dari UNICEF.
Pasokan medis juga dikirimkan ke rumah sakit, termasuk 120 unit ICU dan mesin anestesi untuk RS Al Aqsa di Deir Al-Balah.
Bantuan Diblokir dan Kelaparan Mengancam
OCHA menegaskan bahwa bantuan yang sampai saat ini masih jauh dari kebutuhan riil.
“Kesempatan untuk membantu orang-orang yang kelaparan diblokir secara sistematis. Setiap minggu, pembatasan baru diberlakukan,” kata OCHA dalam pernyataan resminya dikutip dari website resmi, Jumat (19/9/2025).
Beberapa bahan makanan bahkan dikategorikan sebagai barang mewah oleh otoritas Israel, sehingga tidak diizinkan masuk.
Kondisi ini menyebabkan ribuan ton bantuan tertahan di luar Gaza.
Komisaris Jenderal UNRWA, Phillipe Lazzarini, juga menyoroti perang informasi yang menutup akses media internasional ke Gaza.
“Disinformasi terus digunakan sebagai alat untuk mengalihkan perhatian dari kekejaman di wilayah kantong yang dilanda perang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kerja heroik jurnalis Palestina harus mendapat dukungan dan suara mereka tidak boleh dibungkam.