Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mimpi Trump Raih Piagam Nobel Kandas, Dinilai Gagal Bawa Perdamaian Dunia

Harapan Donald Trump meraih Nobel Perdamaian 2025 memudar, setelah kebijakannya dinilai bertentangan dengan nilai perdamaian dan kerja sama global

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Nuryanti
zoom-in Mimpi Trump Raih Piagam Nobel Kandas, Dinilai Gagal Bawa Perdamaian Dunia
https://www.whitehouse.gov/
TRUMP DESAK NATO - Foto ini diambil dari https://www.whitehouse.gov/ pada Minggu (14/9/2025). Harapan Donald Trump meraih Nobel Perdamaian 2025 memudar, setelah kebijakannya dinilai bertentangan dengan nilai perdamaian dan kerja sama global 

Dengan demikian, tindakan Trump yang lebih banyak menimbulkan ketegangan dibanding perdamaian membuatnya dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai yang digagas Alfred Nobel, yakni kerjasama, solidaritas, dan penghapusan kekerasan bersenjata.

Siapa Kandidat Pengganti Trump?

Dengan Donald Trump tersingkir dari daftar favorit Nobel Perdamaian 2025, perhatian kini beralih pada sosok-sosok yang dianggap benar-benar berjuang di garis depan kemanusiaan.

Komite Nobel Norwegia disebut tengah menimbang kandidat yang memiliki kontribusi nyata dalam penyelamatan nyawa, advokasi hak asasi manusia, dan kebebasan sipil di tengah situasi global yang penuh konflik.

Menurut laporan media internasional, beberapa nama yang muncul sebagai kandidat kuat di antaranya adalah Ruang Tanggap Darurat Sudan, sebuah jaringan relawan yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk membantu warga yang terdampak perang dan kelaparan di Afrika Timur.

Selain itu, ada Yulia Navalnaya, janda mendiang oposisi Rusia Alexei Navalny, yang dikenal vokal memperjuangkan demokrasi dan kebebasan berekspresi di negaranya.

Sejumlah lembaga pengawas pemilu dan media independen juga masuk dalam radar penilaian, di tengah meningkatnya ancaman terhadap kebebasan pers di berbagai belahan dunia.

Terlebih dalam beberapa tahun terakhir, Komite Nobel Perdamaian memang cenderung mengalihkan fokusnya dari tokoh politik besar menuju individu atau kelompok yang menjalankan aksi nyata di lapangan.

Rekomendasi Untuk Anda

Penghargaan lebih banyak diberikan kepada mereka yang berjuang tanpa pamrih  dari aktivis lokal, organisasi kemanusiaan, hingga lembaga yang memperjuangkan keadilan sosial.

Analis di Oslo menyebut pola ini sebagai “kembali ke akar nilai Nobel,” yakni menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak selalu lahir dari meja diplomasi, melainkan dari tangan-tangan kecil yang bekerja di tengah penderitaan manusia.

Dengan arah tersebut, peluang sosok-sosok kemanusiaan untuk meraih Nobel tahun ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan figur politik global yang penuh kontroversi seperti Trump.

(Tribunnews.com / Namira)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas