Israel Layangkan Ultimatum, Siap Nyalakan Api Perang jika Hamas Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata
Israel ancam lanjutkan perang jika Hamas langgar gencatan senjata, Zionis menuding Hamas tidak sepenuhnya menghormati kesepakatan yang sudah disahkan
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Israel ancam bakal melanjutkan serangan jika Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata.
- Ultimatum dilayangkan kate evakuasi jenazah tawanan Israel terlambat dikembalikan, karena Hamas kesulitan mengevakuasi jenazah lantaran kurangnya alat berat.
- Buntut ancaman Israel kini akses perbatasan Rafah diperketat, membuat bantuan ke Gaza menurun drastis, warga terancam kelaparan dan krisis kesehatan.
TRIBUNNEWS.COM – Menteri Pertahanan Israel Yoav Katz melayangkan ancaman keras, menegaskan bahwa pasukan militernya siap melanjutkan pertempuran di Gaza.
Pernyataan itu dilayangkan untuk menggertak Hamas agar kelompok militan tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Jika Hamas menolak mematuhi perjanjian tersebut, Israel, berkoordinasi dengan Amerika Serikat, akan melanjutkan pertempuran dan mengubah realitas di Gaza,” tegas pernyataan resmi dari kantor Katz, dikutip oleh The Times of Israel, Kamis (16/10/2025).
Ancaman Israel ini muncul di tengah upaya pemulihan gencatan senjata.
Dimana dalam kesepakatan itu, Hamas berjanji akan membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup. Sebagai imbalan Israel bakal membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina.
Namun, persoalan mengenai jenazah sandera yang tewas masih menjadi sumber ketegangan baru.
Hamas mengatakan tidak lagi mampu mengevakuasi jenazah yang tersisa tanpa bantuan peralatan berat, karena banyak korban yang tertimbun reruntuhan akibat serangan udara Israel.
“Banyak jenazah tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang runtuh. Untuk mengevakuasi mereka, kami membutuhkan alat berat dan perlengkapan khusus yang saat ini tidak kami miliki,” demikian isi pernyataan tersebut di kanal media sosial resmi Al-Qassam.
Menurut sumber dari Kementerian Kesehatan Gaza, diperkirakan lebih dari 28 jenazah sandera Israel berada di berbagai titik reruntuhan, sebagian besar di wilayah utara Gaza yang merupakan daerah paling parah terdampak serangan.
Akibat terkendala alat, hingga Rabu malam (15/10/2025) Hamas baru menyerahkan total sembilan jenazah, termasuk dua yang diserahkan paling akhir, sementara sisanya masih belum ditemukan karena akses yang sangat terbatas.
Pernyataan Hamas ini memicu keterlambatan dalam proses pemulangan jenazah, yang semula dijadwalkan selesai bersamaan dengan pembebasan para sandera yang masih hidup dalam kerangka gencatan senjata.
Hal tersebut juga turut dikonfirmasi Palang Merah Internasional, yang memantau proses pertukaran jenazah, mereka menilai pencarian di tengah puing Gaza merupakan tantangan besar sehingga proses ini memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Jebakan Mic Bocor ala Amerika - Israel Curangi Gencatan Senjata
Israel Ragukan Itikad Hamas
Namun, Tel Aviv menilai alasan tersebut tidak dapat diterima. Pemerintah Israel menuding Hamas tidak sepenuhnya menghormati kesepakatan yang sudah disahkan di bawah pengawasan AS.
Menurut pejabat keamanan Israel, kelompok bersenjata itu masih menyembunyikan informasi terkait lokasi sandera yang belum ditemukan, sekaligus dianggap menunda proses penyerahan jenazah dengan sengaja.
Baca tanpa iklan