Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bos Marugame Udon Minta Manajer Jepangnya Palsukan Kartu Absen

Praktik tersebut diduga dilakukan guna menghindari pelanggaran terhadap aturan jam kerja yang ketat di Negeri Sakura

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Bos Marugame Udon Minta Manajer Jepangnya Palsukan Kartu Absen
Tribunnews.com/Richard Susilo
MANIPULASI CATATAN KERJA - Sebuah toko Marugame Udon di Tokyo. Kasus dugaan manipulasi catatan kerja di jaringan restoran cepat saji Marugame Seimen (Marugame Udon) kembali memunculkan sorotan terhadap budaya kerja ekstrem di Jepang. Seorang bos perusahaan dilaporkan meminta manajer toko untuk memalsukan daftar absensi agar jam lemburnya tidak melampaui batas maksimum yang diatur oleh Kementerian Tenaga Kerja Jepang 

Pihak Toridor Holdings, induk perusahaan Marugame Seimen, mengaku belum menerima pemberitahuan resmi terkait putusan dewan peninjau dan menolak memberikan komentar lebih lanjut.

“Kami belum dihubungi mengenai isi keputusan tersebut, jadi kami menahan diri untuk tidak menanggapi,” ujar perwakilan Toridor kepada Mainichi Shimbun.

Meski demikian, perusahaan menyebut sedang melakukan pembicaraan penyelesaian dengan sang manajer.

Pengacara Tadashi Matsumaru, sekretaris perwakilan National Liaison Council of Lawyers on Overwork Deaths, menilai kasus ini mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap praktik kerja di lapangan.

“Masih banyak industri di Jepang di mana batas antara kerja dan istirahat sangat kabur. Risiko pekerja jatuh dalam kondisi kerja berlebihan tetap tinggi, bahkan setelah pemerintah menyerukan reformasi gaya kerja,” ujarnya.
 
Karoshi Masih Mengintai Dunia Kerja Jepang

Fenomena karoshi — kematian akibat kelelahan kerja — masih menjadi persoalan serius di Jepang meski telah ada berbagai reformasi pasca kasus tragis karyawan Dentsu Inc., Matsuri Takahashi, pada 2015.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan, sepanjang tahun fiskal 2024 terdapat 1.304 kasus kecelakaan kerja terkait kelelahan atau stres berat, naik dari tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, lebih dari 1.000 kasus merupakan gangguan mental seperti depresi.

Rekomendasi Untuk Anda

Ayah sang manajer, yang menjadi pihak pengaju banding, berharap kasus anaknya dapat menjadi peringatan bagi perusahaan-perusahaan lain.

“Saya tidak ingin ada lagi generasi muda yang dipaksa bekerja di bawah tekanan ekstrem tanpa pengawasan yang manusiawi,” ujarnya.

 Diskusi black kigyo juga dilakukan kelompok Pencinta Jepang. Gabung gratis kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email tkyjepang@gmail.com

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas