Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kabar Duka, Perdana Menteri ke-81 Jepang, Tomiichi Murayama Tutup Usia 

Ia jadi perdana menteri pada 1994 dari Partai Sosialis Jepang (JSP) dalam kurun waktu 47 tahun, setelah Satoshi Katayama pada 1947

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Kabar Duka, Perdana Menteri ke-81 Jepang, Tomiichi Murayama Tutup Usia 
Mainichi
TUTUP USIA - Tomiichi Murayama ketika berada di Kisha Club Uchisaiwaichio Tokyo. Mantan Perdana Menteri Jepang Tomiichi Murayama, sosok yang dikenal sebagai anak nelayan yang meniti karier politik hingga menjadi perdana menteri ke-81 Jepang tutup usia, Jumat (17/10/2025) di sebuah rumah sakit di Kota Ōita. Ia berpulang pada pukul 11.28 waktu setempat karena faktor usia yakni 101 tahun. 

Sebagai perdana menteri, Murayama dikenal dengan semboyan “politik ramah rakyat” (people-friendly politics).

Ia mendirikan Dana Kompensasi Mantan Wanita Penghibur, memberlakukan Undang-Undang Bantuan Penyintas Bom Atom, serta turut menyelesaikan kasus penyakit Minamata, simbol pencemaran industri di Jepang.

Namun, masa pemerintahannya juga diwarnai tantangan besar, termasuk Gempa Besar Hanshin (Kobe) 1995 dan serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo oleh sekte Aum Shinrikyo.

Pemerintahannya sempat dikritik karena dinilai lambat dalam menangani krisis tersebut.

Murayama juga mengubah arah kebijakan Partai Sosialis dengan mengakui konstitusionalitas Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) serta menegaskan kepatuhan terhadap Perjanjian Keamanan Jepang–AS — langkah yang memicu perdebatan di dalam partainya sendiri.

Pada Januari 1996, setelah 555 hari menjabat, Murayama secara tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya.

Ia kemudian pensiun dari politik pada 2000.

Konsisten Suarakan Energi Hijau di Masa Tua
Rekomendasi Untuk Anda

Di masa tuanya, Murayama tetap aktif menyuarakan isu lingkungan.

Pada Januari 2022, ia bersama empat mantan perdana menteri Jepang — Junichiro Koizumi, Morihiro Hosokawa, Naoto Kan, dan Yukio Hatoyama — menandatangani surat bersama kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, menolak kebijakan yang menggolongkan energi nuklir sebagai investasi hijau.

Surat tersebut menegaskan pandangannya bahwa ketergantungan pada energi nuklir adalah kebijakan yang merusak masa depan.

Atas dedikasi dan kontribusinya, Murayama menerima sejumlah penghargaan, termasuk Grand Cordon of the Order of the Paulownia Flowers pada tahun 2006 — salah satu tanda kehormatan tertinggi di Jepang.

Murayama meninggalkan warisan sebagai tokoh sederhana dari latar rakyat kecil yang berhasil mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan Jepang, tanpa meninggalkan nilai-nilai keadilan sosial yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya.

 

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas