Kisah Remaja Putri Terjebak Grup Online Penyembah Setan
Christina mengaku upaya melepaskan sang putri dari cengkeraman kelompok 764 sangat sulit.
Editor:
Hasanudin Aco
Wakil kepala bidang yang menangani ancaman kejahatan seksual online terhadap anak, Rob Richardson, mengatakan anggota kelompok itu semakin hari kian muda, sementara di sisi lain kejahatan mereka kerap tidak dilaporkan.
"Dari sudut padangan penegakan hukum, berbicara dengan para korban seringkali menjadi tantangan besar," kata Richardson.
"Para korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka adalah korban, dan itu membuat penanganannya semakin sulit. Gadis-gadis muda sangat rentan."
Oleh karena itu, Richardson menyarankan para orang tua untuk lebih terlibat dalam aktivitas anak-anak mereka di ranah maya.
"Saran kami kepada orang tua adalah tunjukkan ketertarikan pada apa yang mereka lakukan di dunia maya, gunakan kontrol orang tua, dan jika memungkinkan lakukan percakapan tanpa menghakimi," katanya.
Molly Rose Foundation, yayasan yang didirikan untuk mengenang Molly Russell, seorang remaja 14 tahun yang meninggal karena bunuh diri setelah terpapar konten berbahaya di internet menyuarakan keprihatinan atas "pertumbuhan pesat" kelompok-kelompok seperti 764.
"Kami tahu kelompok-kelompok ini beroperasi secara terbuka di platform besar yang digunakan hampir semua anak setiap hari," kata Andy Burrows, CEO yayasan tersebut.
"Kelompok-kelompok seperti ini [764] berada di garis depan untuk ancaman bunuh diri dan perilaku melukai diri sendiri yang dihadapi para remaja."
Jaringan 764 didirikan pada tahun 2020 oleh seorang remaja asal Amerika Serikat bernama Bradley Cadenhead, yang kala itu masih berusia 15 tahun.
Nama kelompok ini dipercaya berasal dari sebagian kode pos kampung halamannya di Texas.
Menurut kepolisian, 764 merupakan bagian dari jaringan internasional kelompok ekstremis sayap kanan yang menganut "ideologi akselerasionis militan".
Dalam percakapan secara daring, Cameron Finnigan —yang bergabung dengan 764 setelah putri Christina menjadi korban— membual kepada sesama anggota tentang upayanya membuat anak-anak menyakiti diri sendiri.
Setelah ditangkap pada usia 18 tahun, Finnigan mengaku kepada polisi bahwa kelompok itu "memeras orang berdasarkan ras, kondisi mental, atau kerentanan mereka agar bisa dimanfaatkan."
Ia belakangan mengaku bersalah atas tuduhan mendorong tindakan bunuh diri, memiliki panduan terorisme, serta menyimpan gambar tidak senonoh anak di bawah umur.
Baca tanpa iklan