Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

10 CEO dengan Bayaran Termahal di Dunia: Elon Musk Raup Rp390,3 Triliun

Inilah 10 CEO dari perusahaan ternama yang memiliki pendapatan fantastis. CEO Tesla, Elon Musk, berada di urutan pertama

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in 10 CEO dengan Bayaran Termahal di Dunia: Elon Musk Raup Rp390,3 Triliun
Dok. Gedung Putih
TOP RANK - Elon Musk saat menggelar konferensi pers dengan Donald Trump di Gedung Putih, 31 Mei 2025. Inilah 10 CEO dari perusahaan ternama yang memiliki pendapatan fantastis. CEO Tesla, Elon Musk, berada di urutan pertama 

Bonus yang berbasis kinerja adalah hal berbeda. CEO yang tahu bahwa penghargaan mereka bergantung pada hasil kerja cenderung berkinerja lebih baik karena memiliki insentif yang jelas untuk berprestasi.

Kinerja dapat diukur melalui berbagai indikator, seperti pertumbuhan laba atau pendapatan, laba atas ekuitas, atau apresiasi harga saham.

Namun, menentukan ukuran yang benar-benar adil untuk mengaitkan pembayaran dengan kinerja bisa rumit.

3. Opsi Saham (Stock Options)

Banyak perusahaan menggembar-gemborkan opsi saham sebagai cara untuk menyelaraskan kepentingan finansial eksekutif dengan pemegang saham.

Mengutip The Forage, opsi saham adalah kontrak antara dua pihak, seperti perusahaan dan karyawan, yang memberikan hak, tetapi bukan kewajiban, kepada pemilik opsi, untuk membeli atau menjual saham pada harga yang disepakati. 

Dengan kata lain, jika seseorang memiliki opsi saham, maka ia memiliki opsi untuk membeli atau menjual saham yang mendasarinya. 

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, opsi saham juga memiliki kelemahan. Risiko antara eksekutif dan investor bisa sangat tidak seimbang.

Ketika nilai saham naik, eksekutif dapat memperoleh keuntungan besar dari opsi mereka.

Sebaliknya, ketika harga saham turun, investor merugi sementara para eksekutif tidak kehilangan apa pun.

Beberapa perusahaan bahkan mengizinkan eksekutif menukar opsi lama dengan opsi baru pada harga yang lebih rendah ketika saham perusahaan jatuh.

Lebih buruk lagi, tekanan untuk menjaga harga saham tetap tinggi demi keuntungan opsi sering kali membuat eksekutif fokus pada hasil jangka pendek, bukan kepentingan jangka panjang pemegang saham.

Dalam kasus ekstrem, sistem ini bahkan bisa mendorong manipulasi laporan keuangan demi memastikan target sementara tercapai — yang justru melemahkan hubungan antara CEO dan pemegang saham.

Baca juga: Steve Forbes Puji Kepemimpinan Visioner Prabowo dalam Dialog di Forbes Global CEO Conference 2025

4. Kepemilikan Saham Langsung

Berbeda dengan opsi, kepemilikan saham langsung terbukti menjadi pendorong kinerja paling efektif.

Studi akademis menunjukkan bahwa CEO benar-benar menyelaraskan kepentingannya dengan pemegang saham ketika mereka memiliki saham, bukan sekadar opsi.

Idealnya, perusahaan memberikan bonus dalam bentuk uang tunai yang diwajibkan untuk membeli saham perusahaan.

Dengan cara ini, para eksekutif berperilaku lebih seperti pemilik sejati karena mereka turut merasakan keuntungan maupun kerugian yang dialami perusahaan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sesuai Minatmu
Halaman 4/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas