Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

AS dan PBB Desak Gencatan Senjata Segera di Sudan Usai RSF Kuasai Kota el-Fasher

PBB dan AS menyerukan gencatan senjata segera di el-Fasher, Darfur Utara, setelah kota itu jatuh ke tangan RSF dan laporan kekejaman muncul.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in AS dan PBB Desak Gencatan Senjata Segera di Sudan Usai RSF Kuasai Kota el-Fasher
Tangkap Layar Al Jazeera
KONFLIK DI SUDAN. Kengerian baru terungkap dari kota el-Fasher, Sudan barat. Para penyintas tiba di Tawila dan menceritakan kisah memilukan usai pengepungan selama 18 bulan berakhir dengan jatuhnya kota itu ke tangan Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Tangkap layar Al Jazeera, Selasa (4/11/2025). 

Ringkasan Berita:
  • PBB dan Amerika Serikat mendesak gencatan senjata segera di Sudan setelah Pasukan Dukungan Cepat (RSF) merebut kota el-Fasher, Darfur Utara.
  • Muncul banyak laporan kekejaman terhadap warga sipil. PBB memperingatkan risiko kekerasan etnis dan kekejaman massal meningkat, sementara AS tengah memediasi gencatan senjata kemanusiaan tiga bulan.
  • Sejak 2023, konflik telah menewaskan 40.000 orang dan memaksa 14 juta lainnya mengungsi.

TRIBUNNEWS.COM - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat (AS) mendesak dilakukannya gencatan senjata segera di Sudan.

Seruan itu terlontar setelah pasukan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) merebut kota el-Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, pada Minggu (2/11/2025).

Menurut laporan BBC, setelah perebutan kota, muncul banyak laporan mengenai kekejaman terhadap warga sipil oleh RSF dan kelompok bersenjata sekutunya.

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Asisten Sekretaris Jenderal untuk Afrika, Martha Ama Akyaa Pobee, memperingatkan bahwa situasi di Sudan memburuk drastis sejak pengarahan terakhirnya.

“Jatuhnya kota itu menandai perubahan signifikan dalam dinamika keamanan. Implikasinya bagi rakyat Sudan dan kawasan ini sangat besar,” ujar Pobee, dikutip dari Reuters.

Ia menegaskan bahwa el-Fasher, yang telah dikepung selama lebih dari 500 hari, kini menjadi simbol penderitaan rakyat Sudan di tengah kekerasan yang terus meluas.

Rekomendasi Untuk Anda

Pobee juga menyoroti peningkatan pertempuran di wilayah Kordofan, terutama setelah kota strategis Barah di Kordofan Utara direbut oleh RSF pekan lalu.

“Risiko kekejaman massal, kekerasan etnis, dan pelanggaran hukum humaniter internasional masih sangat tinggi,” katanya.

Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan sedang memediasi gencatan senjata kemanusiaan tiga bulan sebagai tahap awal menuju proses politik sembilan bulan.

“Kami menyusun rencana komprehensif dengan peta jalan yang jelas. Tahap pertama adalah gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan,” ujar Massad Boulos, Penasihat Senior Washington untuk Urusan Arab dan Afrika, dikutip dari Al Jazeera.

Menurut BBC, AS bekerja sama dengan Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab dalam kelompok yang dikenal sebagai Quad untuk menengahi perdamaian di Sudan.

Baca juga: Krisis di Sudan Semakin Meluas, Bencana Pangan Sudah Terjadi di Kota El-Fasher

Keempat negara itu sebelumnya telah menyerukan gencatan senjata kemanusiaan guna memungkinkan penyaluran bantuan ke seluruh wilayah.

Laporan dan rekaman video menunjukkan dugaan kekejaman RSF terhadap warga sipil, termasuk pemukulan, pembunuhan, dan serangan seksual, menurut kesaksian warga dan pekerja kemanusiaan.

“Kekejaman yang telah kita saksikan sama sekali tidak dapat diterima,” tegas Boulos.

PBB memperkirakan konflik yang telah berlangsung sejak April 2023 itu telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan memaksa 14 juta lainnya mengungsi, menjadikannya krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas