Iran Kerek Naik Harga BBM Akhiri Era Bensin Murah Per 6 Desember Efek Sanksi Global
Iran akhiri era bensin murah. Mulai 6 Desember, BBM di atas 160 liter/bulan kena tarif tinggi demi selamatkan subsidi di tengah tekanan sanksi global.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Namun kini, beban subsidi semakin tidak sebanding dengan kemampuan negara menopang biaya energi.
Sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat menjadi faktor utama perubahan kebijakan ini.
Sanksi tersebut menekan sektor minyak, perbankan, hingga perdagangan internasional Iran.
Akibatnya pemasukan negara merosot tajam, sementara kebutuhan subsidi BBM tetap tinggi.
Pemerintah tidak punya banyak ruang fiskal untuk mempertahankan skema harga lama.
Sehingga kenaikan ini menjadi jalan kompromi untuk menutup biaya subsidi energi yang selama bertahun-tahun membengkak, sementara pemasukan negara terus tergerus akibat pembatasan ekonomi global.
Selain persoalan ekonomi makro, penggunaan BBM dalam jumlah besar ikut mendorong keputusan ini.
Pemerintah menilai konsumsi bensin berlebihan harus dikendalikan. Karena itu, skema baru dibuat berjenjang.
Dimana harga pertama dan kedua tetap berlaku untuk penggunaan hingga 160 liter per bulan, tetapi tarif lebih mahal dikenakan bagi konsumsi di atas batas tersebut.
Dengan pendapatan negara yang tertekan, mempertahankan bensin murah tanpa batas dianggap berisiko memicu keruntuhan fiskal.
Kenaikan harga diharapkan dapat mengurangi pemborosan energi, menekan beban subsidi, dan membantu pemerintah menjaga stabilitas anggaran di tengah situasi ekonomi sulit.
"Tidak diragukan lagi bahwa harga bensin seharusnya dinaikkan," kata Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pernyataannya bulan lalu.
"Tetapi apakah semudah itu untuk mengintervensi harga? Kita harus mempertimbangkan ribuan variabel, merencanakan, dan memikirkan solusinya," imbuhnya.
Meski keputusan ini strategis bagi negara, risiko sosial tetap membayangi.
Iran diketahui pernah diguncang demonstrasi besar pada 2019 ketika harga bensin naik hingga dua kali lipat.
Dalam aksinya pada saat itu, para demonstran membakar pom bensin, menyerang kantor polisi, dan menjarah toko-toko setempat. Akses internet juga mengalami pembatasan ketat di negara itu selama sepekan.
Mengantisipasi terjadinya hal serupa, pemerintah kini mencoba bergerak lebih hati-hati agar protes serupa tidak terulang.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan