Anak di Bawah 10 Tahun dari Indonesia Positif Campak, Pemda Kyoto Imbau Warga Waspada
Anak tersebut tercatat tiba di Stasiun Kyoto (Distrik Shimogyo) dengan kereta Tokaido Shinkansen sekitar pukul 13.00 pada tanggal yang sama
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Seorang anak laki-laki di bawah 10 tahun yang baru kembali dari Indonesia dinyatakan positif campak di Kyoto.
- Anak tersebut sempat berada di Stasiun Kyoto, Kuil Fushimi Inari, dan bepergian ke Osaka.
- Pemerintah Kyoto mengimbau kewaspadaan karena risiko penularan terhadap orang yang pernah kontak.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Pemerintah Kota Kyoto mengumumkan pada Selasa (25/11/2025) bahwa seorang anak laki-laki berusia di bawah 10 tahun yang baru kembali dari Indonesia dinyatakan positif campak setelah tiba di Jepang.
Menurut keterangan otoritas kesehatan Kyoto, anak tersebut mengalami demam dan batuk pada 16 November, kemudian terkonfirmasi positif campak pada 21 November 2025.
Ia tercatat tiba di Stasiun Kyoto (Distrik Shimogyo) dengan kereta Tokaido Shinkansen sekitar pukul 13.00 pada tanggal yang sama.
Pada 17 November pagi, anak itu mengunjungi Kuil Fushimi Inari Taisha di Distrik Fushimi.
Ia kembali melakukan perjalanan menggunakan kereta cepat khusus dari Stasiun JR Kyoto menuju Stasiun Osaka pada 19 November, antara pukul 10.45 hingga 11.45 waktu setempat.
Baca juga: Tahun Ini Wabah Campak Meluas dari Kanada Sampai Indonesia, Pakar Jelaskan 3 Penyebab Utama
Pemerintah Kyoto mengimbau masyarakat tetap waspada karena kemungkinan kontak dengan pasien dapat berisiko penularan.
Identitas kewarganegaraan pasien tidak diungkapkan pihak berwenang.
Campak merupakan penyakit menular yang dipicu serangan virus.
Umumnya orang yang terkena campak mengalami demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam merah khas di seluruh tubuh.
Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia atau kerusakan otak, terutama pada bayi dan anak-anak.
Pencegahan utamanya adalah melalui vaksinasi, sementara penanganannya berfokus pada penanganan gejala, seperti kompres mata dan memastikan asupan vitamin A yang cukup
Baca tanpa iklan