Asosiasi Gubernur Nasional Jepang Deklarasikan Koeksistensi dengan Warga Asing
Deklarasi menegaskan penolakan terhadap sikap eksklusif dan xenofobia, khususnya yang bersumber dari informasi tidak akurat mengenai warga asing
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Asosiasi Gubernur Nasional Jepang mengeluarkan deklarasi untuk memperkuat koeksistensi antara warga Jepang dan pendatang, menolak xenofobia, serta mendorong masyarakat multikultural.
- Fukushima menjadi contoh wilayah dengan pertumbuhan pesat warga asing, terutama dari Vietnam, Indonesia, dan Myanmar.
- Dukungan bahasa, edukasi sosial, serta kolaborasi pemerintah dan masyarakat dinilai penting untuk menjaga harmoni dan memaksimalkan kontribusi pendatang.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Seiring meningkatnya jumlah penduduk asing di tengah penurunan populasi dan kebutuhan tenaga kerja, Asosiasi Gubernur Nasional Jepang (NGA) menyusun sebuah deklarasi bersama untuk mewujudkan lingkungan sosial yang mendukung hidup berdampingan (koeksistensi) antara warga Jepang dan warga asing.
Seorang pejabat pemerintah Prefektur Fukushima mengatakan kepada Tribunnews.com, Jumat (28/11/2025), bahwa jumlah warga asing di wilayahnya terus bertambah, terutama peserta program magang teknis dan pelajar internasional.
"Di Prefektur Fukushima, khususnya, jumlah orang asing dari Asia meningkat pesat. Mereka menjadi bagian dari masyarakat lokal. Kami ingin sesegera mungkin menciptakan lingkungan yang mendukung terwujudnya masyarakat simbiosis," ujarnya.
Deklarasi tersebut menegaskan penolakan terhadap sikap eksklusif dan xenofobia, khususnya yang bersumber dari informasi tidak akurat mengenai warga asing.
Baca juga: Polisi Jepang Tangkap Dua Warga China Pelaku Transaksi Saham Ilegal Rp75 Triliun
NGA menekankan perlunya diskusi yang rasional untuk menciptakan masyarakat multikultural di mana warga lokal dan pendatang dapat hidup dengan aman dan saling berkontribusi.
Di sisi lain, tindakan ilegal dan penyalahgunaan sistem oleh pihak tertentu akan ditindak lebih tegas melalui koordinasi dengan pemerintah pusat.
Deklarasi ini juga muncul sebagai respons atas meningkatnya kecemasan publik terhadap bertambahnya jumlah penduduk asing sejak pemilu parlemen Juli 2025.
Pertumbuhan Populasi Asing di Fukushima
Hingga akhir Desember 2024, jumlah warga asing di Prefektur Fukushima mencapai 19.650 orang, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2014 yang tercatat sebanyak 9.963 orang.
Pada 2023, angka ini bahkan telah melampaui 1 persen dari total populasi prefektur tersebut.
Berdasarkan kewarganegaraan, warga Vietnam menjadi kelompok terbesar dengan 4.977 orang.
Sementara itu, peningkatan signifikan juga terlihat pada warga asal Indonesia dan Myanmar.
Menurut Biro Tenaga Kerja Fukushima, terdapat 13.710 pekerja asing per akhir Oktober 2024.
Mereka tersebar di berbagai sektor industri seperti manufaktur, konstruksi, perdagangan, akomodasi, serta layanan makanan dan minuman.
Baca juga: Sekretaris Kabinet: Tidak Benar Trump Larang Jepang Sentuh Isu Taiwan
Kehadiran tenaga kerja asing dinilai penting bagi wilayah yang tengah menghadapi penurunan jumlah penduduk.
Baca tanpa iklan