Perang Thailand-Kamboja Terus Memanas, Menlu Thailand: Bukan Bangkok yang Memulai
Ledakan artileri, roket serta serangan udara memaksa lebih dari 500 ribu warga sipil dari kedua negara mengungsi menjadikan konflik bereskalasi parah.
Editor:
willy Widianto
Ia menambahkan, kawasan perbatasan kini nyaris kosong.
“Sebagian besar orang telah meninggalkan tempat ini. Ratusan ribu warga di kedua sisi perbatasan kini mencari perlindungan, seperti yang pernah mereka lakukan pada konflik sebelumnya,” katanya.
Menurut McBride, pemerintah Thailand menegaskan keinginannya untuk damai, namun menilai keamanan warga belum dapat dipastikan selama serangan masih berlangsung.
Sementara itu dari Oddar Meanchey, barat laut Kamboja, koresponden Al Jazeera Barnaby Lo melaporkan kondisi pengungsian yang memprihatinkan. Di salah satu kamp yang menampung sekitar 10.000 pengungsi, banyak warga terpaksa berlindung di bawah tenda darurat dari terpal biru, sementara lainnya bahkan tidak memiliki perlindungan dari panas dan hujan.
“Banyak warga mengatakan bantuan yang tersedia tidak mencukupi,” ujar Lo.
Baca juga: Ibu dan Bayinya Sembunyi di Selokan Hindari Tembakan Tentara Thailand
Ia menambahkan bahwa ketakutan menjadi masalah terbesar di kalangan pengungsi.
“Ada kekhawatiran besar bahwa kekerasan akan meluas. Bahkan saat kami berada beberapa kilometer dari lokasi pertempuran, ledakan masih terdengar, membuat orang-orang bersiap untuk kembali berpindah,” katanya.
Lo juga mengungkap bahwa Ketua Senat Kamboja sekaligus mantan perdana menteri Hun Sen telah menyarankan adanya serangan balasan, sehingga konflik diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Bentrokan pekan ini tercatat sebagai yang paling mematikan sejak konflik lima hari pada Juli lalu, yang menewaskan puluhan orang dan menyebabkan sekitar 300.000 warga mengungsi, sebelum gencatan senjata rapuh disepakati melalui intervensi Presiden AS Donald Trump. Trump kembali menegaskan niatnya untuk menghentikan konflik.
“Saya harus melakukan panggilan telepon. Siapa lagi yang bisa mengatakan akan menghentikan perang antara dua negara yang sangat kuat, Thailand dan Kamboja,” kata Trump dalam pidato kampanye di Pennsylvania, AS Selasa malam waktu setempat.
Namun, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan belum melihat adanya peluang negosiasi, seraya menegaskan bahwa Bangkok tidak memulai bentrokan tersebut.
Sementara Kementerian Pertahanan Kamboja menuding Thailand melakukan penembakan “secara brutal dan membabi buta” ke wilayah sipil, tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Thailand.
Sebagai sinyal memburuknya hubungan bilateral, Kamboja juga mengumumkan penarikan diri dari Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) yang tengah berlangsung di Thailand, dengan alasan kekhawatiran keamanan.
Baca juga: Jet Tempur F-16 Thailand Ledakkan Kasino Milik Kamboja, Dituding Sudah Alih Fungsi Jadi Pusat Drone
Konflik berkepanjangan ini berakar dari sengketa perbatasan sepanjang 800 kilometer, warisan era kolonial, serta klaim tumpang tindih atas kuil-kuil bersejarah di wilayah yang belum ditetapkan secara permanen sebuah persoalan lama yang kerap memicu bentrokan bersenjata di antara dua negara tetangga tersebut.
Baca tanpa iklan