Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Perang Thailand-Kamboja Terus Memanas, Menlu Thailand: Bukan Bangkok yang Memulai

Ledakan artileri, roket serta serangan udara memaksa lebih dari 500 ribu warga sipil dari kedua negara mengungsi menjadikan konflik bereskalasi parah.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: willy Widianto
zoom-in Perang Thailand-Kamboja Terus Memanas, Menlu Thailand: Bukan Bangkok yang Memulai
Tangkap layar lembaga penyiaran Thailand TBPS
KONFLIK THAILAND KAMBOJA - Sejumlah warga Thailand berlindung di bunker seadanya sesaat militer Kamboja melakukan serangan di perbatasan kedua negara pada Kamis (24/7/2025).  

Ia menambahkan, kawasan perbatasan kini nyaris kosong.

“Sebagian besar orang telah meninggalkan tempat ini. Ratusan ribu warga di kedua sisi perbatasan kini mencari perlindungan, seperti yang pernah mereka lakukan pada konflik sebelumnya,” katanya.

Menurut McBride, pemerintah Thailand menegaskan keinginannya untuk damai, namun menilai keamanan warga belum dapat dipastikan selama serangan masih berlangsung.

Sementara itu dari Oddar Meanchey, barat laut Kamboja, koresponden Al Jazeera Barnaby Lo melaporkan kondisi pengungsian yang memprihatinkan. Di salah satu kamp yang menampung sekitar 10.000 pengungsi, banyak warga terpaksa berlindung di bawah tenda darurat dari terpal biru, sementara lainnya bahkan tidak memiliki perlindungan dari panas dan hujan.

“Banyak warga mengatakan bantuan yang tersedia tidak mencukupi,” ujar Lo.

Baca juga: Ibu dan Bayinya Sembunyi di Selokan Hindari Tembakan Tentara Thailand

Ia menambahkan bahwa ketakutan menjadi masalah terbesar di kalangan pengungsi.

“Ada kekhawatiran besar bahwa kekerasan akan meluas. Bahkan saat kami berada beberapa kilometer dari lokasi pertempuran, ledakan masih terdengar, membuat orang-orang bersiap untuk kembali berpindah,” katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Lo juga mengungkap bahwa Ketua Senat Kamboja sekaligus mantan perdana menteri Hun Sen telah menyarankan adanya serangan balasan, sehingga konflik diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Bentrokan pekan ini tercatat sebagai yang paling mematikan sejak konflik lima hari pada Juli lalu, yang menewaskan puluhan orang dan menyebabkan sekitar 300.000 warga mengungsi, sebelum gencatan senjata rapuh disepakati melalui intervensi Presiden AS Donald Trump. Trump kembali menegaskan niatnya untuk menghentikan konflik.

“Saya harus melakukan panggilan telepon. Siapa lagi yang bisa mengatakan akan menghentikan perang antara dua negara yang sangat kuat, Thailand dan Kamboja,” kata Trump dalam pidato kampanye di Pennsylvania, AS Selasa malam waktu setempat.

Namun, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan belum melihat adanya peluang negosiasi, seraya menegaskan bahwa Bangkok tidak memulai bentrokan tersebut.

Sementara Kementerian Pertahanan Kamboja menuding Thailand melakukan penembakan “secara brutal dan membabi buta” ke wilayah sipil, tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Thailand.

Sebagai sinyal memburuknya hubungan bilateral, Kamboja juga mengumumkan penarikan diri dari Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) yang tengah berlangsung di Thailand, dengan alasan kekhawatiran keamanan.

Baca juga: Jet Tempur F-16 Thailand Ledakkan Kasino Milik Kamboja, Dituding Sudah Alih Fungsi Jadi Pusat Drone

Konflik berkepanjangan ini berakar dari sengketa perbatasan sepanjang 800 kilometer, warisan era kolonial, serta klaim tumpang tindih atas kuil-kuil bersejarah di wilayah yang belum ditetapkan secara permanen sebuah persoalan lama yang kerap memicu bentrokan bersenjata di antara dua negara tetangga tersebut.

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas