Perang Meletus, 100.000 Warga Kamboja Angkat Kaki Tinggalkan Rumah
Konflik memanas di perbatasan Thailand–Kamboja. Lebih dari 100.000 warga mengungsi, ribuan lainnya dievakuasi, sementara bentrokan terus meluas.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Febri Prasetyo
Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi, pemerintah pusat mengklaim telah menyiagakan tambahan unit medis dan logistik di wilayah perbatasan untuk mengantisipasi lonjakan pengungsi jika baku tembak kembali meningkat.
Dengan situasi yang belum stabil, Bangkok menyatakan fokus utamanya adalah menjaga keselamatan warga sebelum mempertimbangkan langkah diplomasi lebih lanjut.
Konflik yang terus melebar meningkatkan kekhawatiran bahwa jumlah pengungsi dari kedua negara bisa bertambah secara signifikan jika gencatan senjata tidak segera tercapai.
Bentrokan Memasuki Pekan Berdarah, Korban Tewas Bertambah
Berdasarkan laporan pejabat keamanan dan tim medis di kedua negara yang dikutip dari CNA, setidaknya 13 orang tewas dalam sepekan terakhir, termasuk tentara dan warga sipil yang terkena serangan artileri.
Ketegangan memuncak awal pekan lalu setelah kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata hasil mediasi internasional.
Insiden pertama terjadi ketika pasukan Thailand melaporkan tembakan mortir dari wilayah Kamboja yang jatuh di desa perbatasan.
Kamboja membantah tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa Thailand lebih dulu memulai tembakan.
Selang dua hari kemudian, bentrokan kembali pecah di tiga titik sepanjang perbatasan 817 kilometer.
Senjata berat, artileri jarak jauh, dan kendaraan lapis baja dilaporkan digunakan oleh kedua pihak.
Serangan tersebut mengenai sejumlah pemukiman, memaksa ribuan warga Thailand dan lebih dari 100.000 warga Kamboja mengungsi.
Hingga kini kedua negara masih berada dalam posisi saling serang ringan, meskipun intensitasnya menurun pada dua hari terakhir.
Analis militer memperingatkan bahwa tanpa komitmen gencatan senjata baru, potensi pecahnya bentrokan besar kembali tetap tinggi dan dapat memperluas jumlah korban.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan