Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Mengulik Armada Peluncur Roket D11A Thailand: Karya Kolaborasi Israel dengan Jarak Tembak 450 Km

Artileri ini sendiri adalah karya militer bersama antara Institut Teknologi Pertahanan Thailand (DTI) dan perusahaan asal Israel, Elbit Systems.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Bobby W
Editor: Febri Prasetyo
zoom-in Mengulik Armada Peluncur Roket D11A Thailand: Karya Kolaborasi Israel dengan Jarak Tembak 450 Km
Youtube/thaiarmedforce
PELUNCUR ROKET D11A - Institut Teknologi Pertahanan Thailand (DTI) saat memamerkan peluncur roket D11A pada 9 Agustus 2024. Artileri ini sendiri adalah karya militer bersama antara Institut Teknologi Pertahanan Thailand (DTI) dan perusahaan asal Israel, Elbit Systems. 

Selain itu, D11A dapat beroperasi bersama pesawat pengintai kecil untuk berbagai misi.

Setelah diluncurkan, sistem ini mampu menentukan lokasi target secara akurat, memberikan koordinat, serta memverifikasi posisi.

Sistem ini juga dapat dimodifikasi menjadi sistem peluru kendali penangkal sasaran.

Menurut informasi dari The Hidden Code, kemampuan utama D11A terletak pada sistem modularnya yang dirancang untuk memungkinkan penggantian pod roket guna menembakkan berbagai ukuran roket dalam waktu kurang dari 10 menit.

Pada jarak dekat (sekitar 40 km), sistem ini menggunakan roket 122 mm (Accular) yang terutama dipakai untuk serangan hujan bom atau mendukung satuan garis depan.

Untuk jarak menengah (150 km), digunakan roket 306 mm (EXTRA) yang dipandu GPS/INS presisi tinggi dengan kesalahan lingkaran probabilitas (CEP) sekitar 10 meter.

Baca juga: Perang Meletus, 100.000 Warga Kamboja Angkat Kaki Tinggalkan Rumah

Dengan jangkauan 300 km, peluru kendali 370 mm Predator Hawk menjadi senjata utama berkecepatan tinggi yang mampu menghancurkan target strategis di wilayah musuh yang jauh.

Rekomendasi Untuk Anda

Proyek D11A ini diperkirakan memakan biaya mencapai US$2,2 juta atau sekitar Rp 34 Miliar untuk pengembangan prototipe dan alih teknologi dari Israel.

Angka tersebut dianggap sangat hemat biaya dibandingkan dengan pembelian sistem HIMARS lengkap dari Amerika Serikat atau China.

(Tribunnews.com/Bobby)

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas