Gudang Rudal Iran Pulih Cepat Pasca-Perang 12 Hari, Israel dan Amerika Salah Perhitungan?
Enam bulan setelah perang 12 hari dengan Israel, Iran dilaporkan kembali melanjutkan produksi besar-besaran rudal balistik.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
“Kekuatan rudal kami hari ini jauh melampaui Perang 12 Hari. Musuh gagal mencapai semua tujuannya dan mengalami kekalahan,” ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, belum lama ini.
Senada, Brigjen Aziz Nasirzadeh, Menteri Pertahanan Iran, menyatakan, “Produksi pertahanan Iran telah meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas dibandingkan sebelum perang yang dipaksakan Israel pada Juni lalu.”
Laporan yang diterima Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, dari para pejabat Iran mengindikasikan bahwa "pabrik rudal bekerja 24 jam sehari."
Jika perang berikutnya terjadi, Iran dilaporkan berharap dapat menembakkan 2.000 rudal sekaligus untuk melumpuhkan pertahanan Israel, berbeda dengan hanya 500 rudal yang ditembakkan selama 12 hari pada Juni lalu.
Para ahli menyimpulkan, Iran berharap dapat menemukan cara untuk membanjiri situs-situs vital Israel dengan proyektil dalam jumlah yang jauh lebih besar dalam satu kali serangan.
Selain peningkatan kuantitas, Iran juga menerapkan pelajaran dari Perang 12 Hari untuk meningkatkan efektivitas rudal.
Behnam Ben Taleblu, peneliti senior dari Foundation for Defense of Democracies (FDD), menjelaskan bahwa Iran belajar "bagaimana menembakkan lebih sedikit namun mendapatkan hasil yang lebih besar" berdasarkan urutan peluncuran dan target yang dipilih.
Selama konflik, Iran mengklaim telah menggunakan rudal balistik jarak menengah (MRBM) jenis Fattah-1, serta Haj Qassem dan Kheibar Shekan, yang diklaim memiliki kemampuan manuver dan kecepatan tinggi untuk mengurangi kerentanan terhadap pencegat pertahanan rudal Israel.
Menurut analisis Israel Defense Forces (IDF), Iran meluncurkan 631 rudal selama Perang 12 Hari, dengan 500 di antaranya mencapai Israel. Dari jumlah tersebut, 221 rudal berhasil dicegat, mencerminkan tingkat keberhasilan 86 persen.
Meskipun tingkat intersepsi tinggi, penembakan begitu banyak pencegat dilaporkan menimbulkan ketegangan besar pada Integrated Air and Missile Defense System (IADS) Israel.
"Pertahanan AS dan Israel terkuras, dan sejumlah besar pencegat dibutuhkan untuk bertahan dari serangan balasan Iran," simpul Foreign Policy Research Institute.
Menariknya, di tengah upaya Iran membangun kembali arsenal ofensif, Iran juga menerima bantuan dari Tiongkok.
Sumber intelijen Eropa melaporkan pengiriman 2.000 ton natrium perklorat dari Tiongkok ke pelabuhan Bandar Abbas, bahan yang merupakan prekursor utama dalam produksi propelan padat untuk bahan bakar roket.
Tiongkok juga dilaporkan mempertimbangkan kesepakatan untuk menyediakan sistem pertahanan udara canggih HQ-9 untuk menggantikan yang hancur selama serangan Israel.
Bayang-Bayang Nuklir dan Perhitungan Waktu
Baca tanpa iklan