Mengenal Kamo-gari, Perburuan Bebek Tanpa Kekerasan yang Dilestarikan Keluarga Kekaisaran Jepang
Kamo-gari bukan perburuan biasa. Tradisi Kekaisaran Jepang ini justru menolak kekerasan dan menjadi sarana diplomasi budaya yang memikat dunia
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Kamo-gari merupakan tradisi perburuan bebek tertua di Jepang yang dilestarikan Keluarga Kekaisaran sebagai ritual budaya dan diplomasi tanpa kekerasan
- Berawal dari era Edo, bebek tidak dibunuh melainkan ditangkap dengan teknik tradisional lalu dilepaskan kembali
- Kini, Kamo-ba Settai menjadi sarana diplomasi lunak Jepang yang menonjolkan harmoni manusia dan alam.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kamo-gari atau perburuan bebek tradisional Jepang menjadi salah satu tradisi budaya tertua di Jepang yang hingga kini masih dilestarikan, khususnya oleh Keluarga Kekaisaran Jepang.
Perburuan bukan untuk dibunuh, melainkan sebagai ritual budaya dan diplomasi.
“Berburu di Barat biasanya identik dengan menembak dan membunuh hewan. Namun di Kamo-ba, hewan tidak dilukai dan tidak dibunuh. Ini adalah bentuk perburuan yang sangat khas Jepang, tanpa unsur kekerasan, dan hal itu yang membuatnya menarik bagi tamu asing,” jelas Associate Professor Hideya Kasai dari Universitas Nagoya.
Dikatakannya, tradisi ini berawal dari zaman Edo (1603–1868), ketika keluarga shogun Tokugawa dan para daimyo menjadikan perburuan bebek sebagai kegiatan rekreasi kaum bangsawan sekaligus sarana menjamu tamu penting.
Pada masa itu, カモ猟 juga berfungsi sebagai ajang pertemuan informal antarelite politik Jepang.
Berbeda dengan praktik berburu di Barat yang identik dengan senjata api, Kamo-gari menggunakan teknik unik tanpa melukai hewan.
Baca juga: Putri Aiko Jalani Acara Resmi Mandiri Pertama, Jamuan Berburu Bebek Kekaisaran Jepang Curi Perhatian
Ditangkap Menggunakan Jaring Sutera
Bebek liar yang bermigrasi dari wilayah Siberia diarahkan ke kolam khusus yang disebut 元溜(もとだまり/motodamari) dengan bantuan bebek terlatih.
Saat bebek hendak terbang, hewan tersebut ditangkap menggunakan 叉手網(さであみ/sade-ami, jaring tradisional yang terbuat dari benang sutra.
Setelah ditangkap, bebek tidak dibunuh, melainkan diberi tanda dan dilepaskan kembali ke alam.
Cara ini mencerminkan filosofi Jepang yang menekankan harmoni antara manusia dan alam, serta penghormatan terhadap kehidupan.
Pada era Meiji (1868–1912), setelah berakhirnya pemerintahan shogun, tradisi カモ猟 kemudian diwariskan kepada Keluarga Kekaisaran Jepang.
Sejak saat itu, Kamo-gari tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga dikembangkan menjadi bagian dari diplomasi budaya Jepang yang dikenal dengan sebutan 鴨場接待 (Kamo-ba Settai).
Dalam praktik modernnya, Kamo-ba Settai digunakan untuk menjamu para duta besar dan tamu negara asing.
Budaya Tolak Kekerasan
Melalui tradisi ini, Jepang memperkenalkan nilai-nilai budayanya yang menolak kekerasan, menjunjung etika, serta menghargai alam.
Baca tanpa iklan