Gagal Pakai Aset Rusia, Uni Eropa Beri Pinjaman 90 Miliar Euro ke Ukraina
Uni Eropa gagal memutuskan untuk menggunakan aset Rusia yang disita dan sebagai gantinya, mereka memberikan pinjaman 90 miliar Euro kepada Ukraina.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Ukraina mengucapkan terima kasih kepada Uni Eropa yang memutuskan untuk memberikan dukungan sebesar 90 miliar euro (sekitar Rp1,76 – 1,77 kuadriliun) selama dua tahun ke depan.
Kepala Dewan Eropa Antonio Costa mengatakan pinjaman itu hanya akan dibayar kembali ketika Rusia membayar ganti rugi atas perang skala penuhnya.
"Kami berkomitmen, kami menepati janji," kata Antonio Costa, Jumat (19/12/2025).
Di sisi lain, blok tersebut gagal menyepakati rencana mereka untuk menggunakan aset Rusia yang dibekukan untuk mendanai Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Uni Eropa menarik diri dari rencana untuk menggunakan aset-aset negaranya yang dibekukan karena khawatir menghadapi konsekuensi serius.
Ukraina hampir bangkrut dan kehabisan uang untuk melanjutkan perang melawan Rusia, sehingga bantuan Uni Eropa dapat menjadi solusi sementara bagi mereka.
"Ini adalah dukungan signifikan yang benar-benar memperkuat ketahanan kita," tulis Zelenskyy di aplikasi Telegram setelah kesepakatan tercapai pada pertemuan puncak para pemimpin Uni Eropa.
Keputusan itu diambil setelah berjam-jam diskusi mengenai proposal pinjaman yang belum pernah terjadi sebelumnya berdasarkan aset Rusia, yang ternyata terlalu rumit secara politik untuk diselesaikan pada tahap ini.
Sebagai gantinya, Uni Eropa akan meminjamkan uang tunai untuk Ukraina.
Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1396 pada Sabtu (20/12/2025), menandai berlanjutnya konflik panjang yang berawal dari invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022.
Baca juga: Trump Klaim Hampir Capai Kesepakatan Jelang Pembicaraan AS-Rusia: Saya Harap Ukraina Bertindak Cepat
Perang tersebut berakar dari berbagai konflik setelah Uni Soviet runtuh.
Sejak saat itu, Ukraina mulai menjalin hubungan lebih dekat dengan negara-negara Barat, termasuk rencana bergabung dengan NATO dan Uni Eropa.
Kebijakan ini dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan dan pengaruhnya di kawasan.
Ketegangan kedua negara semakin memanas setelah Revolusi Maidan pada tahun 2014.