Gempuran AS di Markas ISIS Suriah Makan Korban, 5 Anggota Dilaporkan Tewas
Gempuran udara AS di Suriah tewaskan 5 anggota ISIS, termasuk pimpinan sel drone. Serangan ini disebut balasan atas aksi ISIS yang menewaskan warga AS
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Serangan udara AS di Suriah menewaskan lima anggota ISIS, termasuk seorang pemimpin sel yang berperan penting dalam operasi drone, dengan sasaran di Deir Ezzor dan kawasan gurun Badia.
- Gempuran tersebut merupakan serangan balasan AS atas aksi ISIS di Palmyra pada 13 Desember yang menewaskan dua tentara dan satu warga sipil Amerika.
- Operasi militer AS disebut mendapat toleransi pemerintah Suriah, yang memandang ISIS sebagai musuh bersama, meski dukungan tersebut bersifat terbatas.
TRIBUNNEWS.COM – Serangan udara yang dilakukan militer Amerika Serikat (AS) di Suriah memakan korban jiwa, setidaknya lima anggota kelompok ISIS tewas.
Informasi itu disampaikan oleh lembaga pemantau konflik bernama Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah, pada Sabtu (20/12/2025).
Kepala Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah Rami Abdel Rahman mengatakan bahwa serangan tersebut menewaskan lima anggota ISIS di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur.
Di antara korban tewas terdapat seorang pemimpin ISIS yang bertanggung jawab atas operasi pesawat tanpa awak atau drone di wilayah tersebut.
Sosok ini disebut memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas kelompok ISIS, khususnya dalam pengintaian dan serangan berbasis teknologi.
Tak hanya menyasar satu titik, operasi tersebut menyasar sejumlah anggota ISIS yang aktif beroperasi di kawasan gurun Badia, wilayah luas dan terpencil yang selama ini dikenal sebagai tempat persembunyian dan pergerakan sisa-sisa jaringan ISIS.
Target serangan mencakup beberapa provinsi strategis, termasuk Homs, Deir Ezzor, dan Raqa.
Sebagian besar sasaran berada di daerah pegunungan yang membentang di utara Palmyra hingga ke arah Deir Ezzor, kawasan yang sulit dijangkau dan kerap dimanfaatkan kelompok bersenjata untuk menghindari deteksi.
AS: Itu Serangan Balasan
Mengutip laporan Al Arabiya, serangan balasan yang dilakukan militer AS terjadi pada Jumat malam dengan menyasar sejumlah lokasi strategis ISIS di Suriah tengah dan timur.
Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas aksi penyerangan ISIS akhir pekan lalu. Washington sebelumnya mengonfirmasi bahwa seorang pria bersenjata tunggal yang berafiliasi dengan ISIS melancarkan serangan pada 13 Desember di Palmyra.
Baca juga: Trump Umumkan Serangan Militer Besar-besaran, Targetkan Markas ISIS di Suriah
Insiden tersebut menewaskan dua tentara Amerika Serikat serta satu warga sipil AS. Palmyra sendiri dikenal sebagai situs bersejarah dunia yang terdaftar dalam daftar Warisan Dunia UNESCO dan pernah dikuasai ISIS pada puncak konflik Suriah.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump memerintahkan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) untuk melakukan operasi militer skala besar.
“Karena pembunuhan keji ISIS terhadap para Patriot Amerika yang pemberani di Suriah, dengan ini saya mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan pembalasan yang sangat serius, seperti yang telah saya janjikan, terhadap para teroris pembunuh yang bertanggung jawab,” tulis Trump.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM mengungkapkan bahwa pasukan AS menyerang lebih dari 70 target ISIS di berbagai lokasi di Suriah tengah.
Namun dalam operasi ini, militer AS tidak mengerahkan pasukan darat dalam operasi tersebut, melainkan menggunakan kekuatan udara presisi untuk menghantam lokasi-lokasi yang telah diidentifikasi sebagai basis dan infrastruktur ISIS.
Baca tanpa iklan