Lembaga Pengawas Data Norwegia: TikTok Terus Lakukan Transfer Data ke China
Otoritas Perlindungan Data Norwegia menuduh bahwa TikTok terus mentransfer data pribadi pengguna Norwegia dan Eropa ke Tiongkok
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Lembaga Pengawas Data Norwegia: TikTok Terus Lakukan Transfer Data ke China
TRIBUNNEWS.COM - Otoritas Perlindungan Data Norwegia (DPA) mengklaim kalau platform media sosial TikTok terus mentransfer data pribadi pengguna ke Tiongkok.
Hal itu dilontarkan DPA setelah pengguna TikTok di negara tersebut menerima pemberitahuan tentang bagaimana data mereka diproses.
Baca juga: Drama Panjang TikTok di AS Berakhir: Oracle Kuasai Saham, Kendali ByteDance Tinggal 19,9 Persen
"Minggu ini, pengguna TikTok Norwegia menerima pemberitahuan tentang bagaimana perusahaan memproses data pribadi mereka. Perusahaan memberi tahu mereka bahwa mereka akan melanjutkan praktik mentransfer data pribadi ke China," demikian tuduhan DPA dalam pernyataan tertulis pada Jumat, dikutip AN, Sabtu (20/12/2025).
Ini berarti data pribadi pengguna Norwegia dan Eropa akan tetap dapat diakses oleh karyawan TikTok di Tiongkok, menurut pernyataan tersebut.
"Praktik ini dapat berdampak negatif terhadap privasi karena undang-undang Tiongkok berpotensi mengharuskan data tersebut dibagikan kepada otoritas Tiongkok. Pada saat yang sama, sulit untuk memprediksi apakah data ini benar-benar akan diserahkan kepada otoritas Tiongkok di masa mendatang," kata kepala seksi DPA, Tobias Judin.
TikTok belum memberikan komentar terkait klaim tersebut.
Irlandia Sanksi TikTok
Pada bulan Mei, TikTok dijatuhi denda sebesar €530 juta ($601 juta atau sekitar Rp 10 triliun) oleh otoritas perlindungan data Irlandia karena melanggar peraturan privasi Eropa,
Sanksi ini menjadi salah satu hukuman terbesar yang pernah dijatuhkan berdasarkan Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR).
Putusan tersebut menyusul penyelidikan panjang oleh Komisi Perlindungan Data Irlandia, yang menemukan bahwa TikTok melanggar peraturan dengan mentransfer data pribadi pengguna Eropa ke Tiongkok, di mana data tersebut diakses oleh para insinyur.
TikTok mengatakan akan mengajukan banding atas keputusan tersebut dan memperingatkan bahwa putusan itu dapat memiliki konsekuensi luas bagi perusahaan global lainnya yang menangani aliran data lintas batas.