AS Kirim Sinyal Keras ke China di Indo-Pasifik: Luncurkan Tomahawk dari Sistem Typhon di Filipina
kehadiran sistem peluncur rudal jejalah Amerika di Filipina ini memicu reaksi keras dari China yang menyebutnya sebagai langkah provokatif.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
AS Kirim Sinyal Keras ke China di Indo-Pasifik: Luncurkan Tomahawk dari Sistem Typhon Filipina
Ringkasan Berita:
- AS meluncurkan rudal Tomahawk dari Filipina menggunakan sistem Typhon untuk pertama kalinya di kawasan Indo-Pasifik.
- Sistem ini memperkuat daya tangkal dengan jangkauan hingga 1.600 km dan kemampuan multi-misi.
- Langkah ini memicu respons China dan berpotensi meningkatkan tensi serta perlombaan senjata di kawasan.
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) menandai babak baru strategi militernya di Indo-Pasifik dengan peluncuran perdana rudal jelajah Tomahawk melalui sistem Typhon Mid-Range Capability (MRC) dari wilayah Filipina.
Langkah ini dinilai sebagai pergeseran signifikan dalam keseimbangan kekuatan di Laut China Selatan.
Peluncuran dilakukan dari Bandara Tacloban pada 5 Mei 2026 dini hari, menjadi penggunaan pertama sistem rudal jarak menengah berbasis darat AS di kawasan rantai pulau pertama Asia.
Baca juga: Iran Dekati China, AS Datangkan Kapal Induk George Bush, Korea Selatan Gabung Operasi Hormuz?
Sistem ini merupakan bagian dari konsep pertahanan Long Range Precision Fires (LRPF) yang kini semakin difokuskan di Indo-Pasifik.
Juru bicara latihan Balikatan, Kolonel Dennis Hernandez, menekankan akurasi tinggi rudal tersebut.
“Sistem ini mampu menghantam target sangat presisi bahkan dari jarak jauh dalam skenario konflik berintensitas tinggi,” ujarnya seperti dilansir DSA, Rabu (6/5/2026).
Uji coba ini menjadi bagian dari latihan gabungan Balikatan 41-2026 yang melibatkan sekitar 17.000 personel multinasional.
Sistem Typhon diuji melalui peluncur Mk 41 Vertical Launch System (VLS) yang dipasang pada platform bergerak berbasis truk HEMTT, memungkinkan mobilitas tinggi dalam operasi tempur.
Dari lokasi peluncuran di Pulau Leyte, sistem ini memiliki jangkauan hingga 1.600 kilometer, mencakup target maritim dan daratan di seluruh Laut China Selatan.
Kemampuan ini memperkuat opsi serangan presisi berkelanjutan bagi aliansi Amerika Serikat-Filipina.
Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., menilai penempatan sistem tersebut sebagai langkah penting dalam meningkatkan kredibilitas pertahanan nasional.
Ia menegaskan bahwa integrasi Typhon akan memperkuat kemampuan militer Filipina dalam menghadapi dinamika keamanan regional.
Setelah berakhirnya Perjanjian INF pada 2019, Amerika Serikat kembali mengembangkan sistem rudal berbasis darat jarak menengah.
Typhon menjadi salah satu manifestasi utama dari upaya tersebut, sekaligus menghadirkan dimensi anti-access/area-denial (A2/AD) baru di Pasifik Barat.
Baca tanpa iklan