Perjuangan WNI Asal Magetan–Banyuwangi Bertahan Hidup dan Membuka Bengkel di Jepang
Ia sempat mengikuti pendidikan bahasa Jepang di sekolah senmon dan memperoleh sertifikat
Editor:
Eko Sutriyanto
Meski pernikahan resmi tercatat di shiyakusho pada Mei 2007, status visanya sempat menemui jalan buntu. Ia harus menggunakan jasa pengacara dengan biaya sekitar 300.000 yen.
Baca juga: Aturan Ketat Bantuan Pendidikan Jepang Picu Penutupan Junior College, Kampus Daerah Terancam
Masalah kembali muncul pada akhir 2008. Harry ditangkap dan dibawa ke Imigrasi Osaka, serta ditahan selama dua pekan.
Berkat jaminan sang istri, ia akhirnya memperoleh visa khusus satu tahun.
Saat itu, kondisi keluarga tengah sulit dan istrinya juga menderita sakit lambung.
Membangun Keluarga dan Usaha
Pada periode 2009–2011, Harry tinggal di Ibaraki dengan perpanjangan visa tahunan. Ia bahkan sempat membentuk tim balap mobil kecil.
Setelah itu, ia pindah ke Nagoya dan membangun kehidupan keluarga dengan empat anak.
Tiga bulan pertama, ia menumpang di rumah kerabat sebelum akhirnya memperoleh pekerjaan tetap selama tiga tahun.
Tahun 2017, Harry pulang ke Indonesia. Namun ketidaktahuan prosedur membuat situasi kembali rumit, termasuk menyangkut status keimigrasian istrinya.
Meski demikian, ia sudah memiliki bengkel di Indonesia dan bahkan sempat mengirim sadel Harley-Davidson ke Jepang untuk kepentingan bisnis.
Kembali ke Jepang dan Fokus Bengkel
Akhir 2019, Harry kembali ke Jepang. Pada 2020, ia bekerja di pabrik pada hari kerja dan membuka bengkel kecil pada akhir pekan.
Pertengahan 2021, ia memutuskan berhenti dari pabrik dan fokus penuh mengembangkan bengkelnya.
Sejak 2022, bengkel Harry di Kota Hekinan, Prefektur Aichi, mulai dikenal luas oleh komunitas Indonesia di Jepang.
Selain perbaikan kendaraan, ia juga menjalankan jual beli mobil hingga sistem kredit melalui leasing.
Namun perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Ia sempat tersandung kasus hukum dan menjalani hukuman percobaan selama tiga tahun.
Baca tanpa iklan