Perjuangan WNI Asal Magetan–Banyuwangi Bertahan Hidup dan Membuka Bengkel di Jepang
Ia sempat mengikuti pendidikan bahasa Jepang di sekolah senmon dan memperoleh sertifikat
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Perjalanan hidup Harry Prasetya, warga negara Indonesia (WNI) asal Magetan yang lahir dan dibesarkan di Banyuwangi, penuh liku dan ujian.
Lahir pada 1968, Harry telah merasakan pahit-manis kehidupan sebagai perantau di Jepang sejak akhir 1990-an hingga akhirnya berhasil membuka bengkel otomotif sendiri di Negeri Sakura.
“Setelah lulus SD, SMP, dan SMA, saya sempat ingin kuliah. Tahun 1998 saya mencoba ikut program semacam pemagangan di Malang, tapi jalur ke Jepang waktu itu belum jelas,” ujar Harry kepada Tribunnews, Jumat (19/12/2025).
Upaya pertamanya ke Jepang melalui perantara berujung kegagalan.
Ia bahkan harus kembali ke Indonesia dan mengalami kegagalan serupa pada percobaan kedua dan ketiga. Belakangan, Harry menyadari dirinya telah menjadi korban penipuan.
Baca juga: Gugatan Iklim Pertama di Jepang oleh 452 Warga Dianggap Langgar HAM
Ia sempat mengikuti pendidikan bahasa Jepang di sekolah senmon dan memperoleh sertifikat. Namun saat hendak mengajukan visa pelajar, keluarganya tidak memberikan restu.
Harry kemudian tinggal di kawasan Shinjuku, Tokyo, menjalani hidup dengan ketidakpastian.
Hidup Overstay dan Kerja Serabutan
Awal 2001, Harry kembali ke Jepang dengan status overstay. Saat pengawasan imigrasi diperketat, ia memilih pindah ke Gunma dan bekerja di pabrik melalui broker. Di sana, ia mulai belajar bahasa Jepang secara otodidak.
Selama hampir dua tahun, Harry berpindah-pindah pekerjaan paruh waktu di berbagai perusahaan. Dari pengalaman tersebut, ia perlahan menguasai bahasa Jepang dasar sekaligus memahami budaya kerja setempat.
Akhir 2002, ia kembali ke Tokyo, lalu berpindah lagi ke Gunma pada 2003. Kehidupannya terus berpindah antara Ibaraki, Saitama, Tochigi, dan Tokyo demi bertahan hidup.
Jatuh Cinta pada Dunia Otomotif
Saat tinggal di Saitama, ketertarikan Harry pada dunia otomotif semakin kuat. Ia bergaul dengan anak-anak muda Jepang pencinta mobil dan beberapa kali diajak ke sirkuit balap. Dari lingkungan itu, ia belajar langsung menangani berbagai kerusakan kendaraan.
Minat pada otomotif sebenarnya sudah tumbuh sejak di Indonesia. Ia pernah belajar otomotif dan komputer di Malang, bahkan sebelum teknologi injeksi dan turbo populer. Kemampuan menganalisis kerusakan mobil ia asah dari pengalaman lapangan.
Menikah, Masalah Imigrasi, dan Visa Khusus
Pada pertengahan 2006, Harry bertemu perempuan Jepang yang kemudian menjadi istrinya.
Mereka menikah pada akhir tahun tersebut, namun urusan imigrasi tidak berjalan mulus.
Baca tanpa iklan