Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Roket H3 Jepang Gagal Mengorbit, Penutup Pelindung Satelit Diduga Terlepas

JAXA mengumumkan kegagalan peluncuran roket H3 penerbangan ke-8 yang dilakukan pada Senin (22/12/2025) pukul 10.50 pagi waktu setempat. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Roket H3 Jepang Gagal Mengorbit, Penutup Pelindung Satelit Diduga Terlepas
(DOK. OXVA)/dok Mainichi
GAGAL MENGORBIT - Roket H3 yang membawa satelit kuasi-zenit Michibiki No. 5  yang gagal diluncurkan dari Pusat Luar Angkasa Tanegashima di Minamitane-cho, Prefektur Kagoshima, Jepang, Senin, 22 Desember 2025 pukul 10:51 waktu setempat. 

H3 merupakan roket andalan generasi terbaru Jepang, penerus H-2A yang mencatat tingkat keberhasilan hingga 98 persen. Namun, pada peluncuran perdananya Maret 2023, H3 juga mengalami kegagalan akibat mesin tahap kedua tidak menyala. Setelah itu, lima penerbangan berturut-turut berhasil, sehingga kegagalan kali ini menjadi kegagalan yang kedua dan dinilai sebagai pukulan besar bagi program antariksa Jepang.

Dampak terhadap Program Navigasi Nasional

Satelit Michibiki digunakan untuk mendukung navigasi kendaraan, pesawat, hingga ponsel pintar di Jepang. Hingga kini, Jepang telah menempatkan enam satelit Michibiki di orbit, termasuk satelit ke-6 yang diluncurkan pada Februari 2025.

Pemerintah menargetkan peluncuran satelit ke-7 pada Februari 2026 untuk membentuk konstelasi tujuh satelit agar Jepang dapat menyediakan layanan navigasi mandiri tanpa bergantung pada sistem negara lain.

Namun, dengan kegagalan H3 penerbangan ke-8, penundaan jadwal pengembangan sistem navigasi nasional Jepang dinilai sulit dihindari, setidaknya hingga hasil investigasi rampung dan perbaikan teknis dilakukan.

Biaya dan Dampak Reputasi

Kegagalan ini kembali menyorot besarnya biaya program antariksa Jepang. Berdasarkan penjelasan resmi sebelumnya dari JAXA, biaya satu kali peluncuran H3 diperkirakan mencapai 5–6 miliar yen (sekitar Rp500–600 miliar).

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, biaya satu unit satelit Michibiki diperkirakan berada di kisaran 40–60 miliar yen (sekitar Rp4–6 triliun), tergantung generasi dan instrumen yang dibawa.

Selain itu, biaya riset dan pengembangan (R&D) H3 sejak awal proyek ditaksir mencapai sekitar 200 miliar yen, mencakup pengembangan mesin utama LE-9, sistem avionik, hingga infrastruktur darat di Tanegashima Space Center.

Pengamat menilai, di luar kerugian langsung, kegagalan ini juga membawa biaya tak kasat mata berupa penundaan jadwal, uji ulang, serta dampak reputasi Jepang di pasar peluncuran global.
Gagalnya Peluncuran Roket H3 Penerbangan ke-8, Satelit Michibiki-5 Gagal Masuk Orbit

Badan Antariksa Jepang Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) mengumumkan kegagalan peluncuran roket H3 penerbangan ke-8 yang dilakukan pada Senin (22/12/2025) pukul 10.50 waktu setempat dari Tanegashima Space Center, Prefektur Kagoshima.

Kegagalan terjadi akibat pembakaran mesin tahap kedua yang berhenti lebih cepat dari jadwal. Akibat anomali tersebut, satelit navigasi Michibiki-5 tidak berhasil dimasukkan ke orbit yang telah direncanakan.

Dalam misi ini, roket H3 membawa satelit Michibiki-5, bagian dari sistem navigasi Jepang Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) yang kerap disebut sebagai “GPS versi Jepang”.

Sesuai rencana, satelit seharusnya mencapai orbit sekitar 30 menit setelah peluncuran, namun gangguan pada tahap kedua menggagalkan seluruh misi.

Dugaan Awal: Pemisahan Fairing Tidak Normal

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas