China, Rusia, Iran Bersatu Bela Venezuela Lawan Trump di Tengah Blokade Karibia
China, Rusia, dan Iran bersatu membela Venezuela di tengah blokade Karibia oleh AS. Maduro melawan tekanan Trump dan membawa isu ini ke PBB.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- China, Rusia, dan Iran menyatakan dukungan penuh kepada Venezuela setelah Trump memberlakukan blokade maritim dan menyita kapal tanker minyak Venezuela dengan dalih pelanggaran sanksi.
- Beijing, Moskow, dan Teheran mengecam keras langkah AS, menilai penyitaan kapal dan ancaman militer sebagai pelanggaran hukum internasional serta Piagam PBB.
- Presiden Nicolás Maduro membalas tekanan Trump dengan langkah diplomatik, termasuk mengadu ke PBB terkait operasi AS di Karibia
TRIBUNNEWS.COM - Poros Iran, Rusia, dan China secara terbuka menyatakan dukungan penuh kepada Venezuela di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro.
Dukungan itu muncul menyusul kebijakan blokade maritim AS yang menyasar kapal tanker minyak Venezuela.
Presiden AS Donald Trump menilai kapal-kapal tanker tersebut terlibat dalam aktivitas perdagangan minyak yang melanggar rezim sanksi, yang selama ini diberlakukan untuk menekan pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
AS menuding pemerintahan Maduro menggunakan pendapatan minyak untuk membiayai apa yang disebut Washington sebagai “terorisme narkoba”, perdagangan manusia, hingga kejahatan lintas negara.
Tuduhan inilah yang dijadikan dasar pemberlakuan sanksi ekonomi berlapis sejak masa jabatan pertama Trump, yang kini berkembang menjadi blokade total terhadap lalu lintas minyak Venezuela.
Bahkan baru-baru ini Trump menyatakan sanksi baru yang memungkinkan AS menyimpan atau bahkan menjual minyak Venezuela yang disita dalam operasi laut di sekitar perairan Karibia.
Namun Pemerintah China bereaksi keras atas langkah AS. Kementerian Luar Negeri China menyebut penyitaan kapal tanker negara lain sebagai pelanggaran serius hukum internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa Venezuela memiliki hak sah untuk mengembangkan hubungan ekonomi dengan negara lain. Ia juga menolak semua bentuk sanksi yang disebutnya “sepihak dan ilegal”.
China sendiri merupakan pembeli terbesar minyak mentah Venezuela, menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China, sehingga kebijakan AS dinilai berpotensi mengganggu stabilitas energi global.
Rusia dan Iran Sebut AS Langgar Piagam PBB
Baca juga: Trump Perketat Tekanan ke Venezuela, Minyak dan Kapal Sitaan Tak Akan Dikembalikan
Kecaman Serupa juga turut dilontarkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut peningkatan operasi Washington dapat membawa konsekuensi serius dan mengancam keselamatan pelayaran internasional.
“Pihak Rusia menegaskan kembali dukungan penuh dan solidaritasnya kepada kepemimpinan dan rakyat Venezuela,” demikian bunyi pernyataan Moskow, dikutip dari The Guardian.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam percakapan telepon dengan Menlu Venezuela Yván Gil Pinto, Araghchi mengutuk ancaman penggunaan kekuatan militer AS terhadap Venezuela.
Iran menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip dasar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta berpotensi mengancam perdamaian regional dan global.
Araghchi menegaskan solidaritas Iran terhadap pemerintah Venezuela yang terpilih secara demokratis, seraya menyerukan komunitas internasional untuk menentang tindakan sepihak yang dinilainya ilegal.
Baca tanpa iklan