Zelenskyy Berharap Temui Presiden AS Trump Dalam Waktu Dekat
Presiden Ukraina Zelenskyy berharap bisa bertemu Presiden AS Donald Trump dalam waktu dekat, optimis akan ada kabar baik sebelum tahun baru 2026.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Zelenskyy berharap bisa bertemu Presiden AS Donald Trump dalam waktu dekat.
- Zelenskyy diperkirakan akan berangkat ke AS paling cepat pada 28 Desember 2025.
- Sebelumnya, Ukraina mengusulkan beberapa syarat perdamaian kepada negosiator AS.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam waktu dekat.
Ia mengumumkan hal tersebut di media sosialnya, setelah menerima laporan dari Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, tentang kontak baru dengan para pejabat AS.
“Kita tidak akan kehilangan satu hari pun. Kami telah sepakat untuk mengadakan pertemuan di tingkat tertinggi – dengan Presiden Trump dalam waktu dekat,” kata Zelenskyy, Jumat (26/12/2025).
Presiden berusia 47 tahun itu optimis bahwa akan ada keputusan sebelum Tahun Baru 2026.
“Banyak hal dapat diputuskan sebelum Tahun Baru," lanjutnya.
Sementara itu, Trump belum secara terbuka mengkonfirmasi rencana untuk pertemuan tersebut.
Zelenskyy diperkirakan akan berangkat ke Florida paling cepat pada 28 Desember 2025 untuk melakukan pembicaraan penting di Mar-a-Lago, menurut laporan Kyiv Post.
Ukraina Beri Usulan Perdamaian ke Negosiator AS
Sehari sebelumnya, Zelenskyy melakukan panggilan telepon dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk membahas usulan Ukraina untuk perdamaian.
Menurut Zelenskyy, panggilan tersebut juga melibatkan Rustem Umerov, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Ukraina Andriy Hnatov, dan Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha.
“Kami membahas beberapa detail penting dari pekerjaan tersebut. Ada ide-ide bagus yang dapat membantu mencapai hasil bersama dan perdamaian abadi. Keamanan sejati, pemulihan sejati, perdamaian sejati—itulah yang kita semua butuhkan,” tulis Zelenskyy, Kamis (25/12/2025).
Baca juga: Kremlin Tolak Komentari 20 Poin Proposal Perdamaian yang Diungkapkan Zelenskyy
Hal ini terjadi ketika para negosiator AS, Ukraina, dan Eropa sedang berupaya mencapai kerangka kerja perdamaian 20 poin yang bertujuan untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Rencana tersebut, yang diumumkan Zelenskyy awal pekan ini, mencakup ketentuan tentang jaminan keamanan untuk Ukraina, rekonstruksi, dan peta jalan untuk menghentikan permusuhan.
Perwakilan Ukraina dan Rusia ikut serta dalam diskusi yang diselenggarakan AS di Miami pada 20-21 Desember 2025, meski Kremlin memperingatkan agar tidak menganggap diskusi itu sebagai terobosan.
Mengutip sumber dekat Kremlin, media Bloomberg melaporkan bahwa Rusia bermaksud mengupayakan revisi terhadap rencana 20 poin proposal perdamaian.
Namun, Kremlin menolak mengomentari rencana 20 poin tersebut dan menegaskan perundingan perdamaian sebaiknya dilakukan secara tertutup, bukan digembar-gemborkan, dikutip dari Russia Today.
Rusia meluncurkan serangan ke Ukraina pada 24 Februari 2022, memulai invasi skala besar terhadap negara tetangganya tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidato awal invasinya menyebut serangan itu bertujuan melindungi warga di Donbas, mencegah ancaman militer dari Ukraina, "denazifikasi dan demiliterisasi" Ukraina, serta menolak perluasan NATO ke kawasan Eropa timur.
Sementara itu Ukraina menolak segala dalih Rusia dalam invasinya yang masih berlangsung.
Dengan dukungan dari AS dan negara-negara Eropa, Ukraina berupaya mempertahankan kedaulatannya dari serangan Rusia.
Berbagai upaya perdamaian belum membuahkan hasil, dan kini AS serta Eropa berupaya menengahi diskusi 20 poin perdamaian yang dinegosiasikan dengan Rusia.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.