Upah Naik tapi Hidup Makin Mahal, Prospek Kepuasan Konsumen Jepang Tidak Pasti
Nikkei cetak rekor, tapi dompet warga Jepang makin menipis. Ancaman greedflation dan kenaikan harga 2026 bisa menggerus kepercayaan konsumen
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Meski indeks Nikkei menembus 50.000 yen, warga Jepang kian tertekan oleh mahalnya biaya hidup dan belum menerima kenaikan harga
- Teikoku Databank mencatat 1.044 produk makanan-minuman berpotensi naik harga April 2026 akibat biaya tenaga kerja, distribusi, kemasan, serta cuaca ekstrem
- Daisuke Iijima memperingatkan risiko greedflation karena konsumen mulai beralih belanja dan perusahaan bisa kehilangan kepercayaan
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Meski indeks saham Nikkei Stock Average untuk pertama kalinya dalam sejarah menembus level 50.000 yen, masyarakat Jepang justru semakin merasakan tekanan akibat mahalnya harga kebutuhan hidup.
Pertanyaannya, apakah konsumen benar-benar dapat menerima kenaikan harga yang terus berlanjut?
Daisuke Iijima dari Departemen Manajemen Informasi Teikoku Databank menilai, prospek kepuasan konsumen terhadap kenaikan harga pada 2026 masih sangat tidak pasti, ungkapnya kepada Mainichi shimbun baru-baru ini.
"Meskipun upah nominal menunjukkan tren kenaikan, upah riil tidak benar-benar meningkat jika memperhitungkan inflasi. Secara jujur, konsumen sama sekali belum menerima kenaikan harga,” ujar Iijima.
Berdasarkan survei Teikoku Databank, jumlah produk makanan dan minuman yang diperkirakan mengalami kenaikan harga pada April 2026 mencapai 1.044 item.
Angka ini memang jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4.417 item, namun bukan berarti tekanan harga berakhir.
Baca juga: Jepang Dirikan Kantor Khusus Awasi Militer China
Biaya Tenaga Kerja dan Distribusi Terus Naik
Iijima menegaskan, kenaikan biaya tenaga kerja akibat kekurangan pekerja hampir tak terelakkan.
Selain itu, biaya transportasi, harga karton, serta film plastik untuk kemasan juga terus meningkat.
“Bukan hanya bahan baku, biaya periferal lainnya terus naik,” jelasnya.
Dampak Cuaca Ekstrem
Gelombang panas ekstrem pada musim panas 2025 turut memperburuk kondisi. Sejumlah komoditas seperti bawang, kentang, dan wortel mengalami gagal panen sehingga harganya melonjak.
Dampaknya bahkan terasa pada produk turunan seperti jus sayuran.
Untuk beras, meskipun ada pandangan harga bisa turun karena stok melimpah, Iijima menilai kemungkinan harga beras baru melampaui 5.000 yen per kilogram di masa depan tetap terbuka.
Kenaikan harga beras juga berpotensi mendorong lonjakan harga sake Jepang, yang dikhawatirkan bisa menyebabkan konsumen menjauh.
Kenaikan Harga yang Berisiko
Iijima memperingatkan perusahaan agar berhati-hati menentukan waktu kenaikan harga.
Baca tanpa iklan