Rusia Bekingi China soal Taiwan, Asia-Pasifik Terancam Jadi Zona Perang
Rusia dukung penuh klaim China atas Taiwan, memicu kekhawatiran konflik di Asia-Pasifik. Jepang dan negara tetangga tingkatkan kesiapan militer.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Tiara Shelavie
Jika terjadi eskalasi, Selat Taiwan dan kawasan sekitarnya bisa menjadi titik panas, mengancam jalur perdagangan internasional dan stabilitas ekonomi global.
Negara Tetangga Genjot Kesiapan Militer
Pasca ketegangan antara China dan Taiwan memanas, sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik mulai meningkatkan kesiapan militer.
Termasuk Jepang, sebagai negara tetangga yang paling terdampak, telah meningkatkan kesiapan militernya dan menyetujui anggaran pertahanan terbesar sepanjang sejarah sebesar 9,04 triliun yen (sekitar 58 miliar dolar AS) untuk tahun fiskal 2026.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran kemungkinan eskalasi militer di Selat Taiwan, setelah Beijing memperkuat klaim atas pulau tersebut dan Moskow menyatakan dukungan penuh terhadap China.
Selain Jepang, negara-negara lain di kawasan seperti Korea Selatan, Australia, dan beberapa anggota ASEAN juga dilaporkan memperkuat latihan militer, meningkatkan patroli laut, dan memperbarui sistem pertahanan udara.
Para pengamat menilai bahwa langkah-langkah ini bersifat pencegahan, namun secara nyata menunjukkan kesiapan menghadapi potensi konflik jika ketegangan meningkat menjadi konfrontasi langsung.
Meskipun dukungan Rusia terhadap China tidak otomatis memicu perang, para analis menekankan bahwa keberpihakan geopolitik ini meningkatkan risiko munculnya “zona sengketa” militer-politik di kawasan Asia-Pasifik.
Ketegangan ini diperparah oleh modernisasi militer China dan ekspansi anggaran pertahanan negara-negara tetangga, yang bisa memicu perlombaan senjata regional dan menimbulkan ketidakstabilan keamanan jangka panjang.
Situasi ini menandai fase baru dalam geopolitik Asia-Pasifik, di mana rivalitas besar antara kekuatan global dan regional mulai membentuk blok-blok strategis yang berpotensi mempengaruhi perdagangan, diplomasi, dan keamanan internasional.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan