Hamas Umumkan Juru Bicara Baru Pengganti Abu Obeida
Hamas mengonfirmasi kematian juru bicara lamanya, Abu Obeida, dan memperkenalkan pengganti dengan nama samaran yang sama
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Bobby Wiratama
Meski sedikit informasi yang diketahui tentang kehidupan pribadinya, Kahlout pernah mengatakan dalam sebuah wawancara pada 2005 bahwa keluarganya terusir dari rumah mereka selama peristiwa Nakba 1948 dan kemudian mengungsi ke sebuah kamp di Gaza.
Sumber internal Hamas menyebut hanya segelintir orang yang mengetahui identitas aslinya sebelum kematiannya.
Asal Usul Nama Abu Obeida
Nama “Abu Obeida” sendiri digunakan Kahlout sejak Intifada Kedua (2000–2005), saat ia mulai tampil di hadapan publik.
Nama tersebut diyakini merujuk pada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang dikenal sebagai panglima perang terkemuka.
Penampilan publik pertamanya sebagai juru bicara Brigade al-Qassam terjadi pada 2004, ketika ia menggelar konferensi pers selama serangan darat Israel di Gaza utara.
Sejak saat itu, ia menjadi satu-satunya juru bicara militer kelompok tersebut, menyampaikan perkembangan medan tempur melalui berbagai saluran resmi Hamas.
Peran besarnya semakin terlihat pada 2006 ketika ia mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit.
Ia kembali muncul pada 2014 untuk mengumumkan penangkapan tentara Israel lainnya, Shaul Aron, lengkap dengan penyebutan nomor identitasnya.
Di luar periode perang, ia sesekali menyampaikan pernyataan politik.
Pada 2022, misalnya, ia bersumpah bahwa Hamas akan mengupayakan pembebasan para tahanan Palestina yang kembali ditangkap Israel.
Salah satu pidatonya yang paling dikenal disampaikan pada 28 Oktober 2024, ketika ia mengecam para pemimpin Arab karena dinilai gagal menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Baca juga: Setelah Bertemu Netanyahu, Trump: Ada Konsekuensi jika Hamas Gagal Lucuti Senjata
“Semoga Tuhan melarang warga Palestina harus meminta para penguasa Arab untuk campur tangan secara militer di Gaza,” ucapnya kala itu.
Ungkapan tersebut kemudian menjadi slogan yang luas digunakan di dunia Arab sebagai bentuk kekecewaan terhadap sikap negara-negara kawasan.
Israel sendiri telah beberapa kali berupaya membunuhnya selama dua dekade terakhir, termasuk dua upaya sejak Oktober 2023.
Pada April 2024, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadapnya dengan menyebutnya sebagai “kepala operasi perang informasi” Hamas.
Baca tanpa iklan