Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Netanyahu: Hamas Masih Punya 20.000 Petempur, 60.000 Senapan dan Terowongan

Perdana Menteri Israel Netanyahu mengatakan Hamas masih memiliki 20.000 pejuang bersenjata, 60.000 senapan dan banyak terowongan di Gaza.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Netanyahu: Hamas Masih Punya 20.000 Petempur, 60.000 Senapan dan Terowongan
Facebook GPO
PIDATO BENJAMIN NETANYAHU - Foto yang diambil dari Facebook GPO, Kamis (2/10/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Israel setelah kembali dari kunjungannya ke Amerika Serikat pada Rabu (1/10/2025). -- Perdana Menteri Israel Netanyahu mengatakan Hamas masih memiliki 20.000 pejuang bersenjata, 60.000 senapan dan banyak terowongan di Gaza. 

Ringkasan Berita:
  • Perdana Menteri Israel Netanyahu menyebut Hamas masih memiliki 20.000 pejuang bersenjata, 60.000 senapan, dan ratusan kilometer terowongan di Jalur Gaza.
  • Netanyahu sebut pemerintahan baru di Gaza dapat dibentuk jika Hamas menyerahkan senjata dan "dibubarkan".
  • Menanggapi kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, Netanyahu sebut Israel harus mengambil alih kendali militer di sana.

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menuduh kelompok Palestina, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), masih memiliki sekitar 20.000 pejuang bersenjata dengan puluhan ribu senapan Kalashnikov.

Netanyahu mengklaim para pejuang ini masih memiliki sekitar 60.000 senapan yang disimpan dan ratusan kilometer terowongan.

Pemimpin Partai Likud itu menekankan tujuan Israel di Gaza belum sepenuhnya tercapai, yaitu penghapusan total Hamas.

Ia mengatakan pemerintahan baru di Jalur Gaza dapat terbentuk tahun depan jika Hamas menyerahkan semua senjatanya dan dibuat "lenyap."

“Tidak akan ada yang masuk ke sana jika Hamas tetap bersenjata dan mereka akan menembak siapa pun dari pemerintahan baru mana pun,” kata Netanyahu kepada Fox News, Selasa (30/12/2025).

“Semua orang mengerti itu. Saya pikir Hamas juga mengerti. Itulah mengapa mereka tidak mau melakukannya. Karena, Anda tahu, intinya di sini bukanlah untuk bernegosiasi dengan Hamas. Itu bukan tugasnya; tugas mereka adalah untuk lenyap, berhenti, tidak ada lagi," ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Israel dan Hamas sebelumnya menyepakati perjanjian gencatan senjata fase pertama yang ditengahi oleh Mesir dan Qatar, yang berlaku mulai 10 Oktober 2025, namun perundingan menuju fase kedua masih terhambat.

Setelah berkunjung ke kediaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Florida, Netanyahu mengungkap kendala perundingan dengan Hamas adalah masalah senjata.

"Satu kata: pelucutan senjata. Hamas berkomitmen untuk melucuti senjata," kata Netanyahu ketika ditanya tentang hambatan menuju fase kedua gencatan senjata. 

Netanyahu mengklaim Israel, yang mendapat aliran pasokan militer besar-besaran dari AS, sebagai negara "terkuat" di Timur Tengah.

Baca juga: Trump Desak Netanyahu Ubah Kebijakan Tepi Barat, Perjanjian Perdamaian Gaza Rusak karena Kekerasan

"Israel muncul dari perang tujuh front yang dipaksakan kepada kita sebagai negara terkuat di Timur Tengah," kata Netanyahu.

Terkait pengerahan pasukan internasional di Jalur Gaza, Netanyahu mengindikasikan ada upaya untuk mendatangkan pasukan internasional, tetapi upaya ini belum berhasil.

Ketika ditanya oleh Fox News tentang peralihan ke fase kedua gencatan senjata Gaza, Netanyahu mengatakan, "Saya pikir kita harus memberinya kesempatan."

Tentara Israel telah membunuh lebih dari 71.200 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan melukai lebih dari 171.200 lainnya sejak Oktober 2023 di Gaza dalam serangan brutal yang juga meninggalkan wilayah tersebut dalam reruntuhan.

Meski gencata senjata telah berlaku, Israel masih menutup perbatasan dan membatasi bantuan yang masuk ke Gaza, lapor Anadolu Agency.

"Israel Harus Kendalikan Tepi Barat"

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas